PENGERTIAN
FILSAFAT
Kata filsafat dalam
bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab. Kata filosofi yang
dipungut dari bahasa Belanda juga yang dikenal di Indonesia. Bentuk akhir dari
ini lebih mirip dengan kata aslinya, yang diambil dari bahasa Yunani yaitu philosophia,
arti harfiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan” atau “ilmu”.
Filsafat adalah studi
tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan
dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan
eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan tetapi dengan mengutarakan
masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan
alasan yang tepat untuk solusi tertentu.
ILMU
PENGETAHUAN SEBAGAI SKETSA UMUM PENGANTAR UNTUK MEMAHAMI FILSAFAT ILMU
Filsafat dan ilmu
pengetahuan pada awalnya merupakan satu kesatuan, pembatasan ilmu pengetahuan
dilakukan berdasarkan sistem filsafat yang dianutnya. Tetapi seiring dengan
perkembangan zaman terutama sejak zaman Renaissance pada abad ke XV, filsafat berkembang
sangat pesat, pekembangan filsafat membuat ilmu pengetahuan juga berkembang
pesat dan tumbuh cabang-cabang di dalamnya. Masing-masing cabang memisahkan
diri dari batas filsafatnya dan asing-masing mengikuti metodologinya sendiri
sendiri. Metodologinya menjadi mata pelajaran yang sangat dipentingkan.
Perkembangan filsafat ilmu pengetahuan menimbulkan kekaburan mengenai
batas-batas antara cabang ilmu yang satu dengan ilmu yang lain.
FENOMENOLOGI
PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Fenomenologi adalah ilmu
pengetahuan tentang apa yang tampak. Fenomenologi bisa dikatakan sebagai ilmu
yang mempelajari yang tampak atau apa yang menampakkan diri atau fenomenon.
Edmun Husserl (1859-1938) adalah pendiri aliran fenomenologi, ia telah
mempengaruhi pemikiran filsafat abad ke 20. Bagi edmun fenomena ialah realitas
sendiri yang tampak bagi subjek. Dengan keterangan ini mulai nampaklah tendesi,
tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan subjek dengan realitas. Objek
fenomenologi adalah fakta atau gejala, atau keadaan, kejadian, atau benda,
serta realitas yang sedang menggejala. Pendektakan fenomenologi boleh dikatakan
menolak teori. Hal ini disebabkan karena pendekatan ini lebih menekankan
nasionalisme dan realitas budaya yang ada dan bisa dikatakan sejalan dengan penelitian etnografi yang
menitikberatkan padangan warga setempat, Diana realitas dipandang lebih domain
deibandingkan dengan teori-teori. Fenomenologi menekankan upaya menggapai hal
itu sendiri lepas dari segala presuposisi dan karena itulah disebut sebagai
cara berfilsafat yang radikal.
Secara umum dapat
dikatakan bahwa fenomenologi adalah cara dan bentuk berpikir, atau apa yang
disebut dengan The styie of thinking. Biasanya dikatakan bahwa dasar pikiran
itu ialah intenasionalisme. Menurut edmund sebagai salah satu tokoh filsafat
fenomenologi bahwa intenion, kesengajaan mengarahkan kesadaran dan reduksi.
Beberapa macam fenomenologi :
1. fenomenologi edidetik
dalam linguistik
2. fenomenologi ingarden
dalam sastra, artinya pengertian murni ditentukan melalui penentuan utama.
3. fenomenologi
transdental
4. fenomenologi
eksistensial
FOKUS
FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
Ilmu
Pengetahuan merupakan karya budi yang logis Sn imajinatif. Tanpa imajinasi dan
logika dari seorang kopernikus, satu gagasan besar tentang heliosentrisme tik
akan muncul. Begitu juga halnya jika kita berbicara tentang ilmu lain. Metode
ilmu pengetahuan adalah metode yang logis karena ilmu pengetahuan mempraktikan
logika. Pengetahuan
adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan pemahaman yang dimiliki
manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia dan kehidupannya.
Sedangkan Ilmu Pengetahuan adalah keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang
telah di bakukan secara sistematis. Ini berarti pengetahuan lebih spontan
sifatnya, sedangkan Ilmu Pengetahuan lebih sistematis dan reflektif. Dengan
demikian, pengetahuan mencakup segala sesuatu yang di ketahui manusia tanpa
perlu berarti telah di bakukan secara sistematis. Pengetahuan mencakup
penalaran, penjelasan dan pemahaman manusia tentang segala sesuatu. Juga,
mencakup praktek atau kemampuan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan
hidup yang belum di bakukan secara sistematis dan metodis.
Filsafat
ilmu pengetahuan adalah cabang filsafat yang mempersoalkan dan mengkaji segala
persoalan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Sebelum
munculnya ilmu pengetahuan, manusia telah berupaya menjelaskan dan memahami
berbagai peristiwa tersebut melalui apa yang dikenal sebagai mitos atau cerita dongeng.
Melalui cerita-cerita dongeng, manusia berupaya menjelaskan secara masuk akal(reasonable) makna
berbagai peristiwa dan keterkaitannya dengan peristiwa lainnya. Melalui
mitos-mitos itu manusia lalu memahami pada tingkat yang sangat sederhana, misalnya,
dari mana asal usul bumi ini, dari mana munculnya manusia, bagaimana terjadinya
gempa, guntur, kilat, dan seterusnya. Dengan pemahaman yang sangat sederhana
itu, mereka dapat menata kehidupannya secara lebih baik.
Melalui ilmu
pengetahuan, berbagai peristiwa alam semesta lalu di jelaskan secara lain dalam
kerangka teori atau hukum ilmiah yang lebih masuk akal, dan klebih biasa
dibuktikan dengan berbagai perangkat metodis yang berkembang kemudian sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.
3. Fokus Filsafat Ilmu Pengetahuan
Ilmu
pengetahuan merupakan karya budi yang logis dan imajinatif. Tanpa imajinasi dan
logika dari seorang kopernikus, suatu gagasan besar tentang heliosentrisme
tidak akan muncul. Begitu juga halnya jika kita berbicara tentang ilmuan-ilmuan
lain. Metode-metode ilmu pengetahuan adalah metode-metode yang logis karena
ilmu pengetahuan mempraktikan logika. Namun selain logika temuan-temuan dalam
ilmu pengetahuan dimungkinkan oleh akan budi manusia yang terbuka pada realistis.
Keterbukaan budi manusia pada realitas itu kita sebut imajinasi. Maka logika
dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu
pengetahuan.
Tak pernah
ada imajinasi tanpa logika dalam ilmu pengetahuan. Keduanya akan berjalan
bersamaan. Namun pendekatan pertama tidaklah cukup. Ilmu pengetahuan telah
berkembang sebagai bagian dari hidup kita sebagai manusia dalam masyarakat.
Dengan alasan itu, filsafat ilmu pengetahuan perlu mengarahkan diri selain
kepada pembicaraan tentang masalah metode ilmu pengetahuan juga harus berbicara
tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan masyarakat. Implikasi sosial dan
etis dari ilmu pengetahuan akan dibicarakan dalam konteks ini. Topik yang
dibicarakan di sini antara lain adalah hubungan antara ilmu pengetahuan dengan life-world, antara
ilmu pengetahuan dan politik, bagaimana harus membangun ilmu pengetahuan dalam
masyarakat.
MANFAAT BELAJAT FILSAFAT
ILMU PENGETAHUAN
Dengan mempelajari filsafat pengetahuan dan ilmu
pengetahuan, khususnya cara kerja ilmu pengetahuan. Seseorang akan memperoleh
manfaat yang besar sekali bagi kerjanya kelak di kemudian hari sebagai polisi,
ahli hukum, wartawan, teknisi, ataupun sebagai manajer karena
pekerjaan-pekerjaan ini - dan semua pekerjaan lainnya – pada dasarnya berkaitan
dengan upaya memecahkan masalah tertentu. Dalam hal ini, ilmu pengetahuan di butuhkan
demi memecahkan berbagai persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan
masing-masing orang secara lebih rasional, tuntas, dan memuaskan. Yang
dibutuhkan dari seseorang yang profesional dalam bidang pekerjaannya adalah,
pertama-tama, kemampuan untuk melihat masalah: di mana masalahnya, seberapa
besar masalahnya, apa dampaknya, dan bagaimana mengatasinya. Ini sangat
dibutuhkan dalam bidang pekerjaannya. Sesungguhnya, inilah yang dipelajari
dalam kaitan dengan filsafat ilmu pengetahuan. Yang terutama dipelajari dalam
masing-masing ilmu adalah kemampuan teknis dalam masing-masing ilmu untuk
memecahkan persoalan dari sudut ilmu masing-masing, sedangkan filsafat ilmu
pengetahuan lebih melatih mahasiswa untuk mampu melihat masalah, mampu melihat
sebabnya, apa akibatnya, dan apa solusinya.
Ilmu
pengetahuan tidak hanya bersifat puritan-elitis, melainkan juga pragmatis.
Dalam pengertian, ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti sekedar memuaskan rasa
ingin tahu manusia. Melainkan juga bermaksud membantu manusia untuk memecahkan
berbagai persoalan yang dihadapi manusia dalam hidupnya. Salah satu persoalan
aktual yang dihadapi kita dalam konteks Indonesia sekarang ini adalah problem
modernisasi. Problem modernisasi adalah bagaimana memecahkan masalah
kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, maupun penyakit dengan menggunakan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Ternyata, ilmu pengetahuan dan teknologi, terlepas
dari akibat negatifnya yang pernah dialami manusia, sekurang-kurangnya hingga
sekarang membantu mengurangi penderitaan manusia dan meningkatkan
kesejahteraannya, melalui apa yang kita kenal sebagai proses modernisasi.
RUANG LINGKUP DAN KEDUDUKAN
FILSAFAT ILMU
Filsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab
beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu . Bidang ini mempelajari dasar-dasar
filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain
ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan
epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan
masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat
disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu
dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi;
cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan
metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan
kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan
terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri .
1.Epistemologi.
Epistemology (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis. Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
1.Epistemologi.
Epistemology (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis. Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme. Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan
cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak
empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya
merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan
itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa
pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan
ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama
dan sederhana tersebut.Ia memandang akal sebagai sejenis tempat
penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini
berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai
kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan
sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau
tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau
setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
b. Rasionalisme.
b. Rasionalisme.
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal.
Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman
paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut
rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita,
dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna
mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran
hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal
budi saja.
c. Fenomenalisme. Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
c. Fenomenalisme. Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
d. Intusionisme, Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara
langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan
pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari
pengetahuan intuitif.
Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.
Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkari nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaannya yang senyatanya.
e. Dialektis
Yaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.
2. Ontologi
Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.
Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkari nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaannya yang senyatanya.
e. Dialektis
Yaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.
2. Ontologi
Ontology merupakan salah satu kajian filsafat yang paling kuno dan
berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat
konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal
seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum
membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf
yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang
merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya
bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka
(sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
Hakikat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.
Hakikat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang:
1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme.
3. Aksiologi
Aksilogi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana
manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai)
dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai. Pertanyaan di wilayah ini
menyangkut, antara lain:
a) Untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan?
a) Untuk apa pengetahuan ilmu itu digunakan?
b) Bagaimana kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah
moral?
c) Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
d) Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan professional?
c) Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
d) Bagaimana kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan professional?
Filsafat ilmu dikenal sebagai disiplin tersendiri pada abad ke-20 sebagai akibat profesionalisasi dan spesialisasi ilmu-ilmu alam . Berfikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai pada hakikat, atau berpikir secara global (menyeluruh), atau berpikir dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan. Berfikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berfikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Bahasan yang di cerna oleh ilmu filsafat sangat luas cakupannya. Poin yang utama ditujunya adalah mencari hakikat kebenaran segala sesuatu. Baik dalam kebenaran berfikir ( Logika ), kebenaran tingkah laku (Etika) Maupun dalam mencari hakikat sesuatu yang ada dibalik alam nyata (metafisika), sehingga persoalannya adalah apakah sesuatu itu hakiki (benar) atau maya (palsu). Jadi Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan yang mengkaji tentang hakikat ilmu. Dimana ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai cirri-ciri tertentu yaitu yang bersifat konkrit yang artinya masalah tersebut terdapat dalam jangkauan pengalaman manusia. Selain bersifat konkrit, ilmu juga mempunyai ciri sifat lain, yaitu bersifat nyata yang artinya jawaban itu ada pada dunia nyata dan ilmu itu dimulai dari fakta dan diakhiri dengan fakta, dan dari ciri – ciri tersebut terdapat dalam ilmu, kita bisa mengetahui fungsi dari filsafat ilmu dan arah dari filsafat ilmu. Filsafat ilmu mempelajari apakah objek yang ditelaah dalam ilmu, bagaimana proses mendapatkan ilmu dan apakah kegunaan ilmu tersebut. Objek atau hakekat sesuatu dipelajari dalam ontologi, cara mendapatkannya dipelajari dalan epistemologi, dan kegunaannya dipelajari dalam aksiologi. Dari kajian – kajian yang terdapat dalam ilmu filsafat ilmu kita bisa mengetahui kembali fungsi dari arah filsafat ilmu. Oleh karena itu fungsi filsafat ilmu adalah :
1. Untuk mengetahui objek apa saja yang ditela’ah dalam ilmu
2. untuk mengetahui tentang proses mendapatkan ilmu
2. untuk mengetahui tentang proses mendapatkan ilmu
3. untuk mengetahui kegunaan dari ilmu tersebut
4. untuk mengetahui ciri – ciri tertentu dari
cabang – cabang pengetahuan yang termasuk ke dalam objek kajian dari filsafat
ilmu. Sedangkan arah dari filsafat
ilmu adalah mengarahkan seseorang untuk mengkaji filsafat lebih dalam tentang
hakikat sesuatu itu benar atau salah , baik atau buruk, indah atau jelek. yang
masing–masing sifat tersebut dapat mengarahkan seseorang ahli filsafat untuk
mengetahui tentang filsafat ilmu. Filsafat yang mengkaji tentang salah – benar
disebut loga, filsafat yang mengkaji tentang baik – buruk disebut etika dan
filsafat yang mengkaji tentang indah – jelek disebut estetika. Ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam
menghasilkan suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan.
Berpikir bukan satu –satunya cara dalam mendapatkan pengetahuan. Demikian juga
ilmu bukan satu –satunya produk dari kegiatan berpikir menurut langkah –
langkah tertentu yang secara umum dapat disebut sebagai berpikir ilmiah. Berpikir
ilmiah merupakan kegiatan berpikir yang memenuhi persyaratan – persyaratan
tertentu. Persyaratan tersebut pada hakikatnya mencakup dua kriteria utama
yakni; pertama berpikir ilmiah harus mempunyai alur jalan pikiran yang logis,
yang kedua pernyataan yang bersifat logis tersebut harus didukung oleh fakta
empiris. Persyaratan pertama mengharuskan alur jalan pikiran kita untuk
konsisten dengan pengetahuan ilmiah yang telah ada sedangkan persyaratan kedua
mengharuskan kita untuk menerima pernyataan yang didukung oleh fakta sebagai
pernyataan yang benar secara ilmiah. Pernyataan yang telah diuji kebenarannya
ini kemudian diperkaya khasanah pengetahuan pengetahuan ilmiah yang disusun
secara sistematik dan komulatif. Kebenaran ilmiah ini tidaklah bersifat mutlak
sebab mungkin saja pernyataan yang sekarang logis kemudian akan bertentangan
dengan ilmu pengetahuan ilmiah baru atau pernyataan yang sekarang didukung oleh
fakta kemudian di tentang oleh penemuan baru, kebenaran ilmiah terbuka bagi
koreksi dan penyempurnaan.
C.Kesimpulan
Dengan filsafat Ilmu maka kita dapat menyimpulkan beberapa karakteristik dari ilmu. Pertama ialah bahwa ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Walaupun demikian maka berpikir secara rasional ini pun harus memenuhi syarat-syarat tertentu agar sampai kepada kesimpulan yang dapat di andalkan. Untuk itu maka ilmu mempunyai karakteristik, yang kedua yakni alur jalan pikiran yang logis yang konsisten dengan pengetahuan yang ada. Walaupun demikian maka tidak semua yang logis itu didukung fakta atau mengandung kebenaran secara empiris. Untuk itu maka ilmu mensyaratkan karakteristik yang ke tiga yakni pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif. Pernyataan yang dijabarkan secara logis dan telah teruji secara empiris lalu dianggap benar secara ilmiah dan memperkaya khazanah pengetahuan ilmiah. Walaupun demikian tidak ada jaminan bahwa pernyataan yang sekarang benar secara ilmiah kemudian lalu tidak shahih lagi. Untuk itu maka ilmu mensyaratkan karakteristik ke empat,yakni mekanisme yang terbuka terhadap koreksi.
Dalam kajian pendidikan Islam maka Filsafat Ilmu menjadi penting karena dengan adanya filsafat ilmu apa yang kita pelajari, akan memiliki nilai dan manfaat dan dengan pemahaman yang benar akan ilmu pengetahuan itu sendiri perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa yang akan datang juga diharapkan itu akan sesuai dan sejalan dengan cita – cita ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu membebaskan manusia dari belenggu kesulitan hidup dan mencapai kesejahteraan.
Dengan filsafat Ilmu maka kita dapat menyimpulkan beberapa karakteristik dari ilmu. Pertama ialah bahwa ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Walaupun demikian maka berpikir secara rasional ini pun harus memenuhi syarat-syarat tertentu agar sampai kepada kesimpulan yang dapat di andalkan. Untuk itu maka ilmu mempunyai karakteristik, yang kedua yakni alur jalan pikiran yang logis yang konsisten dengan pengetahuan yang ada. Walaupun demikian maka tidak semua yang logis itu didukung fakta atau mengandung kebenaran secara empiris. Untuk itu maka ilmu mensyaratkan karakteristik yang ke tiga yakni pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif. Pernyataan yang dijabarkan secara logis dan telah teruji secara empiris lalu dianggap benar secara ilmiah dan memperkaya khazanah pengetahuan ilmiah. Walaupun demikian tidak ada jaminan bahwa pernyataan yang sekarang benar secara ilmiah kemudian lalu tidak shahih lagi. Untuk itu maka ilmu mensyaratkan karakteristik ke empat,yakni mekanisme yang terbuka terhadap koreksi.
Dalam kajian pendidikan Islam maka Filsafat Ilmu menjadi penting karena dengan adanya filsafat ilmu apa yang kita pelajari, akan memiliki nilai dan manfaat dan dengan pemahaman yang benar akan ilmu pengetahuan itu sendiri perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa yang akan datang juga diharapkan itu akan sesuai dan sejalan dengan cita – cita ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu membebaskan manusia dari belenggu kesulitan hidup dan mencapai kesejahteraan.
SEJARAH
PERKEMBANGAN ILMU
Kebudayaan manusia ditandai dengan berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi secara cepat yang merupakan akibat peran serta
pengaruh dari pemikiran filsafat Barat. Pada awal perkembangannya, yakni zaman
Yunani Kuno, filsafat diidentikkan dengan ilmu pengetahuan. Maksudnya adalah
antara pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan tidak dipisah, sehingga semua
pemikiran manusia yang muncul pada zaman itu disebut filsafat. Pada abad
Pertengahan, filsafat menjadi identik dengan agama, sehingga pemikiran filsafat
pada zaman itu menjadi satu dengan dogma gereja. Pada abad ke-15 muncullah
Renaissans kemudian disusul oleh Aufklaerung pada abad ke-18 yang membawa
perubahan pandangan terhadap filsafat. Pada masa ini filsafat memisahkan diri
dari agama, sehingga membuat orang berani mengeluarkan pendapat mereka tanpa
takut akan dikenai hukuman oleh pihak gereja. Filsafat zaman modern tetap
sekuler seperti zaman Renaissans, yang membedakan adalah pada zaman ini ilmu
pengetahuan berpisah dari filsafat dan mulai berkembang menjadi beberapa cabang
yang terjadi dengan cepat. Bahkan pada abad ke-20, ilmu pengetahuan, mulai
berkembang menjadi berbagai spesialisasi dan sub-spesialisasi.
Ilmu pengetahuan pada awalnya merupakan sebuah sistem
yang dikembangkan untuk mengetahui keadaan lingkungan disekitanya. Selain itu,
ilmu pengetahuan juga diciptakan untuk dapat membantu kehidupan manusia menjadi
lebih mudah. Pada abad ke-20 dan menjelang abad ke-21, ilmu telah menjadi
sesuatu yang substantif yang menguasai kehidupan manusia. Namun, tak hanya itu,
ilmu pengetahuan yang sudah berkembang sedemikian pesat juga telah menimbulkan
berbagai krisis kemanusiaan dalam kehidupan. Hal ini didorong oleh
kecenderungan pemecahan masalah kemanusiaan yang lebih banyak bersifsat
sektoral. Salah satu upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan yang
semakin kompleks tersebut ialah dengan mempelajari perkembangan pemikiran
filsafat.
Perkembangan filsafat Barat dibagi menjadi beberapa
periodesasi yang didasarkan atas ciri yang dominan pada zaman tersebut.
Periode-periode tersebut adalah :
1.
1. Zaman Yunani Kuno (Abad 6SM-6M)
Ciri pemikirannya adalah
kosmosentris, yakni mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya
sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala. Dan
beberapa tokoh filosof pada zaman ini menyatakan pendapatnya tentangarche, antara lain :
·
Thales (640-
550 SM)
: arche berupa
air
·
Anaximander
(611-545 SM) : arche berupa apeiron (sesuatu yang tidak
terbatas)
·
Anaximenes
(588-524 SM) : arche berupa udara
·
Phytagoras
(580-500 SM) : arche dapat diterangkan atas dasar
bilangan-bilangan.
Selain keempat tokoh di atas ada dua
filosof, yakni Herakleitos (540-475 SM) dan Parmindes (540-475 SM) yang
mempertanyakan apakah realitas itu berubah, bukan menjadi sesuatu yang tetap.
Pemikir Yunani lain yang merupakan salah satu yang berperan penting dalam
pengembangan ilmu pengetahuan adalah Demokritos (460-370 SM) yang menegaskan
bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang disebut dengan atom (atomos, dari a-tidak, dan tomos-terbagi). Selain itu, filosof
yang sering dibicarakan adalah Socrates (470-399 SM) yang langsung menggunakan
metode filsafat langsung dalam kehidupan sehari-hari yang dikenal dengan
dialektika (dialegesthai) yang
artinya bercakap-cakap. Hal ini pula yang diteruskan oleh Plato (428-348
SM). Dan pemikiran filsafat masa ini mencapai puncaknya pada seorang
Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan bahwa tugas utama ilmu pengetahuan adalah
mencari penyebab-penyebab obyek yang diselidiki. Ia pun berpendapat bahwa tiap
kejadian harus mempunyai empat sebab, antara lain penyebab material, penyebab
formal, penyebab efisien dan penyebab final.
1.
2. Zaman Pertengahan (6-16M)
Ciri pemikiran pada zaman ini ialah teosentris yang
menggunakan pemikiran filsafat untuk memperkuat dogma agama Kristiani. Pada
zaman ini pemikiran Eropa terkendali oleh keharusan kesesuaian dengan ajaran
agama. Filsafat Agustinus (354-430) yang dipengaruhi oleh pemikiran Plato,
merupakan sebuah pemikiran filsafat yang membahas mengenai keadaan ikut ambil
bagian, yakni suatu pemikiran bahwa pengetahuan tentang ciptaan merupakan
keadaan yang menjadi bagian dari idea-idea Tuhan. Sedangkan Thomas Aquinas
(1125-1274) yang mengikuti pemikiran filsafat Aristoteles, menganut teori
penciptaan di mana Tuhan menghasilkan ciptaan dari ketiadaan. Selain itu,
mencipta juga berarti terus menerus menghasilkan serta memelihara ciptaan.
3. Zaman Renaissans (14-16M)
Merupakan suatu zaman yang menaruh
perhatian dalam bidang seni, filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Zaman
ini juga dikenal dengan era kembalinya kebebasan manusia dalam berpikir. Tokoh
filosof zaman ini diantaranya adalah Nicolaus Copernicus (1473-1543) yang
mengemukakan teori heliosentrisme, yang mana matahari merupakan pusat jagad
raya. Dan Francis Bacon (1561-1626) yang menjadi perintis filsafat ilmu
pengetahuan dengan ungkapannya yang terkenal “knowledge is power”
1.
4. Zaman Modern (17-19M)
Filsafat zaman ini bercorak antroposentris, yang
menjadikan manusia sebagai pusat perhatian penyelidikan filsafati. Selain itu,
yang menjadi topik utama ialah persoalan epistemologi.
1.
a. Rasionalisme
Aliran ini berpendapat bahwa akal
merupakan sumber pengetahuan yang memadai dan dapat dipercaya. Pengalaman hanya
dipakai untuk menguatkan kebenaran pengetahuan yang telah diperoleh melalui
akal. Salah satu tokohnya adalah Rene Descartes (1598-1650) yang juga merupakan
pendiri filsafat modern yang dikenal dengan pernyataannya Cogito Ergo Sum (aku berpikir,
maka aku ada). Metode yang digunakan Descrates disebut dengan a priori yang secara harfiah
berarti berdasarkan atas adanya hal-hal yang mendahului. Maksudnya adalah
dengan menggunakan metode ini manusia seakan-akan sudah mengetahui dengan pasti
segala gejala yang terjadi.
1.
b. Empirisisme
Menyatakan bahwa sumber ilmu
pengetahuan adalah pengalaman, baik lahir maupun batin. Akal hanya berfungsi
dan bertugas untuk mengatur dan mengolah data yang diperoleh dari pengalaman.
Metode yang digunakan adalah a
posteriori atau metode yang berdasarkan atas hal-hal yang
terjadi pada kemudian. Dipelopori oleh Francis Bacon yang memperkenalkan metode
eksperimen.
1.
c. Kritisisme
Sebuah teori pengetahuan yang berupaya untuk
menyatukan dua pandangan yang berbeda antara Rasionalisme dan Empirisme yang
dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804). Ia berpendapat bahwa pengetahuan
merupakan hasil yang diperoleh dari adanya kerjasama antara dua komponen, yakni
yang bersifat pengalaman inderawi dan cara mengolah kesan yang nantinya akan
menimbulkan hubungan antara sebab dan akibat.
1.
d. Idealisme
Berawal dari penyatuan dua Idealisme yang berbeda
antara Idealisme Subyektif (Fitche) dan Idealisme Obyektif (Scelling) oleh
Hegel (1770-1931) menjadi filsafat idealisme yang mutlak. Hegel berpendapat
bahwa pikiran merupakan esensi dari alam dan alam ialah keseluruhan jiwa yang
diobyektifkan. Asas idealisme adalah keyakinan terhadap arti dan pemikiran
dalam struktur dunia yang merupakan intuisi dasar.
1.
e. Positivisme
Didirikan oleh Auguste Comte
(1798-1857) yang hanya menerima fakta-fakta yang ditemukan secara positif
ilmiah. Semboyannya yang sangat dikenal adalah savoir pour prevoir, yang artinya mengetahui supaya siap
untuk bertindak. Maksudnya ialah manusia harus mengetahui gejala-gejala dan
hubungan-hubungan antar gejala sehingga ia dapat meramalkan apa yang akan
terjadi. Filsafat ini juga dikenal dengan faham empirisisme-kritis, pengamatan
dengan teori berjalan beriringan. Ia membagi masyarakat menjadi atas statika
sosial dan dinamika sosial.
1.
f. Marxisme
Pendirinya ialah Karl Marx (1818-1883) yang aliran
filsafatnya merupakan perpaduan antara metode dialektika Hegel dan materialisme
Feuerbach. Marx mengajarkan bahwa sejarah dijalankan oleh suatu logika
tersendiri, dan motor sejarah terdiri hukum-hukum sosial ekonomis. Baginya
filsafat bukan hanya tentang pengetahuan dan kehendak, melainkan tindakan,
yakni melakukan sebuah perubahan, tidak hanya sekedar menafsirkan dunia. Yang
perlu diubah adalah kaum protelar harus bisa mengambil alih peranan kaum
borjuis dan kapitalis melalui revolusi, agar masyarakat tidak lagi tertindas.
1.
5. Zaman Kontemporer (Abad ke-20 dan seterusnya)
Pokok pemikirannya dikenal dengan istilah logosentris,
yakni teks menjadi tema sentral diskursus para filosof. Hal ini dikarenakan
ungkapan-ungkapan filsafat cenderung membingungkan dan sulit untuk dimengerti.
Padahal tugas filsafat bukanlah hanya sekedar membuat pernyataan tentang suatu
hal, namun juga memecahkan masalah yang timbul akibat ketidakpahaman terhadap
bahasa logika, dan memberikan penjelasan yang logis atas pemikiran-pemikiran
yang diungkapkan.
Pada zaman ini muncul berbagai aliran filsafat dan
kebanyakan dari aliran-aliran tersebut merupakan kelanjutan dari aliran-aliran
filsafat yang pernah berkembang pada zaman sebelumnya, seperti Neo-Thomisme,
Neo-Marxisme, Neo-Positivisme dan sebagainya.
LANDASAN PENELAAH ILMU
SARANA BERPIKIR ILMIAH
Kegiatan berpikir kita lakukan dalam keseharian dan kegiatan ilmiah.
Berpikir merupakan upaya manusia dalam memecahkan masalah. Berpikir ilmiah
merupakan berpikir dengan langkah – langkah metode ilmiah seperti perumusan
masalah, pengajuan hipotesis, pengkajian literatur, menjugi hipotesis, menarik
kesimpulan.ke semua langkah – langkah berpikir dengan metode ilmiah tersebut
harus didukung dengan alat / sarana yang baik sehingga diharapkan hasil dari
berpikir ilmiah yang kita lakukan mendapatkan hasil yang baik. Sarana ilmiah
pada dasarnya merupakan alat membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah
yang harus ditempuh. Tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan
kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik, sedangkan tujuan mempelajari ilmu
dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan untuk bisa memecahkan
masalah sehari-hari. Ditinjau dari pola berpikirnya, maka maka ilmu merupakan
gabungan antara pola berpikir deduktif dan berpikir induktif, untuk itu maka
penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika
induktif .Penalaran ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah
yang pada hakikatnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak
hipotesis yang diajukan. Kemampuan berfikir ilmiah yang baik harus didukung
oleh penguasaan sarana berfikir ini dengan baik pula. Salah satu langkah kearah
penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana
berfikir tersebut dalam keseluruhan berfikir ilmiah tersebut. Untuk dapat
melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, maka diperlukan sarana yang berupa
bahasa, logika, matematika dan statistik.
DEFINISI HAKIKAT SARANA BERFIKIR ILMIAH
Berpikir ilmiah adalah berpikir yang logis dan empiris. Logis adalah masuk
akal, dan empiris adalah dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang
dapat dipertanggung jawabkan, selain itu menggunakan akal budi untuk
mempertimbangkan, memutuskan, dan mengembangkan. Berpikir merupakan sebuah
proses yang membuahkan pengetahuan. Proses ini merupakan serangkaian gerak
pemikiran dalam mengikuti jalan pemikiran tertentu yang akhirnya sampai pada
sebuah kesimpulan yang berupa pengetahuan. Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal
yang menggabungkan induksi dan deduksi. Induksi adalah cara berpikir yang di
dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus
yang bersifat khusus, sedangkan, deduksi ialah cara berpikir yang di dalamnya
kesimpulan yang bersifat khusus ditarik dari pernyataan-pernyataan yang
bersifat umum.
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam
berbagai langkah yang harus ditempuh tanpa penguasaan sarana berpikir
ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah yang
baik. Mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam
mendapatkan pengetahuannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu
proses metode ilmiah.
Pengertian Sarana Berpikir Ilmiah menurut para ahli :
1.
Menurut Salam (1997:139): Berpikir ilmiah adalah proses atau aktivitas
manusia untuk menemukan/mendapatkan ilmu. Berpikir ilmiah
adalah proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan yang berupa
pengetahuan.
2.
Menurut Jujun S.Suriasumantri. Berpikir merupakan kegiatan akal untuk
memperoleh pengetahuan yang benar. Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang
menggabungkan induksi dan deduksi.
3.
Menurut Kartono (1996, dalam Khodijah 2006:118). Berpikir ilmiah, yaitu
berpikir dalam hubungan yang luas dengan pengertian yang lebih komplek disertai
pembuktian-pembuktian.
4.
Menurut Eman Sulaeman. Berpikir ilmiah merupakan proses berpikir/pengembangan
pikiran yang tersusun secara sistematis yang berdasarkan
pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah ada.
Ilmu pengetahuan telah di definisikan dengan beberapa cara dan definisi
untuk operasional. Berpikir secara ilmiah adalah upaya untuk menemukan
kenyataan dan ide yang belum diketahui sebelumnya. Ilmu merupakan proses
kegiatan mencari pengetahuan melalui pengamatan berdasarkan teori dan atau
generalisasi. Ilmu berusaha memahami alam sebagaimana adanya dan selanjutnya
hasil kegiatan keilmuan merupakan alat untuk meramalkan dan mengendalikan
gejala alam. Adapun pengetahuan adalah keseluruhan hal yang diketahui, yang
membentuk persepsi tentang kebenaran atau fakta. Ilmu adalah bagian dari
pengetahuan, sebaliknya setiap pengetahuan belum tentu ilmu. Untuk dapat melakukan
kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana berpikir ilmiah
yaitu bahasa, matematika, dan statistika.. Matematika mempunyai peranan yang
penting dalam berpikir deduktif. Statistika mempunyai peranan penting dalam
berpikir induktif. Salah satu langkah kearah penguasaan adalah mengetahui
dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir dalam keseluruhan proses
berpikir ilmiah.
Untuk itu terdapat syarat-syarat yang membedakan ilmu (science), dengan
pengetahuan (knowledge), antara lain :
1.
Menurut Prof.Dr.Prajudi Atmosudiro, Adm. Dan Management Umum
1982. Ilmu harus ada obyeknya, terminologinya, metodologinya, filosofinya dan
teorinya yang khas.
2.
Menurut Prof.DR.Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang
Sosial 1985. Ilmu juga harus memiliki objek, metode, sistematika dan mesti
bersifat universal.
Sumber-sumber pengetahuan manusia dikelompokkan atas:
Ø Pengalaman.
Ø Otoritas .
Ø Cara berpikir deduktif.
Ø Cara berpikir induktif .
Ø Berpikir ilmiah (pendekatan ilmiah).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari sarana berpikir ilmiah adalah :
1.
Sarana berpikir ilmiah bukanlah ilmu melainkan kumpulan pengetahuan yang
didapatkan berdasarkan metode ilmu.
2.
Tujuan mempelajari metode ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan
penelaahan ilmiah secara baik.
Berpikir merupakan ciri utama bagi manusia. Berpikir disebut juga sebagai
proses bekerjanya akal. Secara garis besar berpikir dapat dibedakan antara berpikir
alamiah dan berpikir ilmiah. Berpikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan
kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Berpikir ilmiah adalah
pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat. Harus
disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta
menggunakan akalnya semaksimal mungkin
Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh ke palsuan dan ke sesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Banyak yang beranggapan bahwa untuk “berpikir secara mendalam”, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap “berpikir secara mendalam” sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan “filosof”. Bagi seorang ilmuan penguasaan sarana berpikir ilmiah merupakan suatu keharusan, karena tanpa adanya penguasaan sarana ilmiah, maka tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dengan berbagai langkah yang harus ditempuh.
Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh ke palsuan dan ke sesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Banyak yang beranggapan bahwa untuk “berpikir secara mendalam”, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap “berpikir secara mendalam” sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan “filosof”. Bagi seorang ilmuan penguasaan sarana berpikir ilmiah merupakan suatu keharusan, karena tanpa adanya penguasaan sarana ilmiah, maka tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dengan berbagai langkah yang harus ditempuh.
Sarana berpikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu : bahasa ilmiah,
logika dan matematika, logika dan statistika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai
alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir
ilmiah. Logika dan matematika mempunyai peranan penting dalam berpikir deduktif
sehingga mudah diikuti dan mudah dilacak kembali kebenarannya. Sedang logika
dan statistika mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif dan mencari
konsep-konsep yang berlaku umum
Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita
untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu
dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat
memecahkan masalah kita sehari-hari.
Fungsi berpikir ilmiah , sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan dalam
kaitan kegiatan ilmiah secara keseluruhan. Dalam hal ini berpikir ilmiah
merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuannya
berdasarkan metode ilmiah.
Pada hakikatnya sarana berpikir ilmiah merupakan alat yang
membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada
langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab
itulah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini kita
harus dapat menguasai langkah-langkah dalam kegiatan langkah berpikir
tersebut. Sebagai makhluk hidup yang paling mulia, manusia dikaruniai
kemampuan untuk mengetahui diri dan alam sekitarnya. Melalui pengetahuan,
manusia dapat mengatasi kendala dan kebutuhan demi kelangsungan hidupnya.
Karenanya tidak salah jika Tuhan menyatakan manusialah yang memiliki peran
sebagai wakil. Tuhan di bumi, melalui penciptaan kebudayaan. Proses penciptaan
kebudayaan dan pengetahuan yang didapatkan oleh manusia di mulai dari sebuah
proses yang paling dasar, yakni kemampuan manusia untuk berpikir. Meskipun
sebenarnya hewan memiliki kemampuan yang sama dengan manusia dalam hal berpikir,
tetapi makhluk yang terakhir hanya dapat berpikir dengan kemampuan terbatas
pada insting dan demi kelangsungan hidupnya. Berbeda dengan hewan, manusia
dalam proses berpikir melampaui diri dan kelangsungan hidupnya, bahkan hingga
menghadirkan kebudayaan dan peradaban yang menakjubkan. Sesuatu yang
nyata-nyata tidak dapat dilakukan oleh makhluk Tuhan yang lain.
Selain berpikir ilmiah, terdapat dua contoh lain di mana sebuah kegiatan
berpikir tidak dapat disebut sebagai penalaran. Keduanya adalah
berpikir dengan intuisi dan berpikir berdasarkan wahyu. Intuisi
adalah kegiatan berpikir manusia, yang melibatkan pengalaman langsung dalam
mendapatkan suatu pengetahuan. Namun, intuisi tidak memiliki pola pikir
tertentu, sehingga ia tidak dapat dikategorikan sebagai kegiatan penalaran. Sebagai
misal, seorang Ayah merasa tidak tenang dengan kondisi anaknya yang sedang
menuntut ilmu di luar kota. Tetapi ketika ditanyakan apa sebab yang menjadi
dasar ketidaktenangan dirinya, sang Ayah tidak dapat menyebutkannya dan hanya
beralasan bahwa perasaannya menyatakan ada yang tidak beres dengan si anak yang
ada di luar kota. Setelah menyusul ke tempat anaknya, ternyata si anak sedang sakit
parah. Meskipun proses berpikir sang Ayah mendapatkan kebenaran, tetapi tidak
bisa disebut berpikir ilmiah, karena tidak memenuhi suatu logika
tertentu dan terlebih lagi tidak terdapat proses analitis terdapat peristiwa.
Uraian mengenai hakikat berpikir ilmiah atau kegiatan penalaran memperlihatkan
bahwa pada dasarnya, kegiatan berpikir adalah proses dasar dari pengetahuan
manusia. kita membedakan antara pengetahuan yang ilmiah dan pengetahuan
non-ilmiah. Hanya saja, pemahaman kita tentang berpikir ilmiah belum dapat
disebut benar. Perbedaan berpikir ilmiah dari berpikir non-ilmiah memiliki
perbedaan dalam dua faktor mendasar yaitu:
1.
Sumber pengetahuan
Berpikir ilmiah menyandarkan sumber pengetahuan pada rasio dan pengalaman
manusia, sedangkan berpikir non-ilmiah (intuisi dan wahyu) mendasarkan sumber
pengetahuan pada perasaan manusia.
1.
Ukuran kebenaran
Berpikir ilmiah mendasarkan ukuran kebenarannya pada logis dan analitisnya
suatu pengetahuan, sedangkan berpikir non-ilmiah (intuisi dan wahyu)
mendasarkan kebenaran suatu pengetahuan pada keyakinan semata.
PERAN BAHASA DALAM SARANA BERFIKIR ILMIAH
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses
berpikir ilmiah. Definisi bahasa menurut Jujun Suparjan Suriasumantri menyebut
bahasa sebagai serangkaian bunyi dan lambang yang membentuk makna. Sedangkan
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diterangkan bahwa bahasa ialah sistem
lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu
masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
Jadi bahasa menekankan pada bunyi, lambang, sistematika, komunikasi.
Adapun ciri-ciri bahasa di antaranya yaitu:
1.
Sistematis artinya memiliki pola dan aturan.
2.
Arbitrer (manasuka) artinya kata sebagai simbol berhubungan secara tidak
logis dengan apa yang disimbolkannya.
3.
Ucapan/vokal. Bahasa berupa bunyi
4.
Sebagai symbol yang mengaju pada objeknya dan lain sebagainya.
Kelemahan bahasa dalam menghambat komunikasi ilmiah yaitu :
Bahasa mempunyai multifungsi (ekspresif, konatif, representasional, informatif, deskriptif, simbolik, emotif, afektif) yang dalam praktiknya sukar untuk dipisah-pisahkan. Akibatnya, ilmuwan sukar untuk membuang faktor emotif dan afektifnya ketika mengomunikasikan pengetahuan informatifnya.
Bahasa mempunyai multifungsi (ekspresif, konatif, representasional, informatif, deskriptif, simbolik, emotif, afektif) yang dalam praktiknya sukar untuk dipisah-pisahkan. Akibatnya, ilmuwan sukar untuk membuang faktor emotif dan afektifnya ketika mengomunikasikan pengetahuan informatifnya.
Keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuannya berpikir melainkan
terletak pada kemampuannya berbahasa. Oleh karena itu, Ernest menyebut manusia
sebagai Animal Symbolycum, yaitu makhluk yang mempergunakan simbol. Bahasa
Sebagai sarana komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi
tidak terlepas dari bahasa, seperti berpikir sistematis dalam menggapai ilmu
dan pengetahuan. Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa,
seseorang tidak dapat melakukan kegiatan berpikir sebagai secara sistematis dan
teratur. Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berpikir
seseorang dan tiada batas dunia. Yang dimaksud bahasa di sini ialah bahasa
ilmiah yang merupakan sarana komunikasi ilmiah yang ditujukan untuk
menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan, syarat-syarat bebas dari unsur
emotif, reproduktif, obyektif dan eksplisit.
Bahasa memegang peran penting dan suatu hal yang lazim dalam kehidupan
manusia. Kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan
menganggapnya sebagai suatu hal yang bisa, seperti bernafas dan berjalan.
Padahal bahasa mempunyai pengaruh-pengaruh yang luar biasa dan termasuk yang
membedakan manusia dari ciptaan lainnya. Banyak ahli bahasa yang telah
memberikan uraiannya tentang pengertiannya tentang pengertian bahasa.
Pernyataan tersebut tentunya berbeda-beda cara menyampaikannya.
Seperti pendapat Bloch and Trager mengatakan bahwa : a language is a
system of arbitrary vocal symbols by means of which asocial group cooperates (bahasa
adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh
suatu kelompok sosial sebagai alat untuk komunikasi). Peran bahasa di sini
adalah sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses
berpikir ilmiah dan sebagai sarana komunikasi antar manusia tanpa bahasa tiada
komunikasi.
Adapun ciri-ciri bahasa ilmiah yaitu:
1.
Informatif yang berarti bahwa bahasa ilmiah mengungkapkan informasi atau
pengetahuan. Informasi atau pengetahuan ini dinyatakan secara eksplisit dan jelas
untuk menghindari kesalahpahaman Informasi.
2.
Reproduktif adalah bahwa pembicara atau penulis menyampaikan informasi yang
sama dengan informasi yang diterima oleh pendengar atau pembacanya.
3.
Intersubjektif, yaitu ungkapan-ungkapan yang dipakai mengandung makna-makna
yang sama bagi para pemakainya
4.
Antiseptik berarti bahwa bahasa ilmiah itu objektif dan tidak memuat unsur
emotif, kendatipun pada kenyataannya unsur emotif ini sulit dilepaskan dari
unsur informatif.
Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan
jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah. Yang dimaksud bahasa di sini
ialah bahasa ilmiah yang merupakan sarana komunikasi ilmiah yang
ditujukan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan dengan
syarat-syarat: Bebas dari unsur emotif, Reproduktif, Obyektif,
Eksplisit.
Bahasa pada hakikatnya mempunyai dua fungsi utama yakni,
1.
Sebagai sarana komunikasi antar manusia.
2.
Sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang
mempergunakan bahasa tersebut.
Bahasa adalah unsur yang berpadu dengan unsur-unsur lain di dalam jaringan
kebudayaan. Pada waktu yang sama bahasa merupakan sarana pengungkapan
nilai-nilai budaya, pikiran, dan nilai-nilai kehidupan kemasyarakatan. Oleh
karena itu, kebijaksanaan nasional yang tegas di dalam bidang kebahasaan harus
merupakan bagian yang integral dari kebijaksanaan nasional yang tegas di
dalam bidang kebudayaan. Perkembangan kebudayaan Indonesia ke arah peradaban
modern sejalan dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
menuntut adanya perkembangan cara berpikir yang ditandai oleh kecermatan,
ketepatan, dan kesanggupan menyatakan isi pikiran secara eksplisit.
Berpikir dan mengungkapkan isi pikiran ini harus dipenuhi oleh bahasa
Indonesia sebagai sarana komunikasi dan sebagai sarana berpikir ilmiah dalam
hubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
modernisasi masyarakat Indonesia. Selain itu, mutu dan kemampuan bahasa
Indonesia sebagai sarana komunikasi keagamaan perlu pula ditingkatkan.
Bahasa Indonesia harus dibina dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga
ia memiliki kesanggupan menyatakan dengan tegas, jelas, dan eksplisit
konsep-konsep yang rumit dan abstrak.
Para ahli filsafat bahasa dan psikolinguitik melihat fungsi bahasa
sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan emosi. Sedangkan
aliran sisiolinguistik berpendapat bahwa fungsi bahasa adalah sarana untuk
perubahan masyarakat. Walaupun terdapat perbedaan tetapi pendapat ini saling
melengkapi satu sama lainnya. Secara umum dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa
adalah :
1.
Koordinator kegiatan-kegiatan dalam masyarakat.
2.
Penetapan pemikiran dan pengungkapan.
3.
Penyampaian pikiran dan perasaan
4.
Penyenangan jiwa
5.
Pengurangan gonjangan jiwa
Kneller mengemukakan 3 fungsi bahasa yaitu:
1.
Simbolik menonjol dalam komunikasi ilmiah.
2.
Emotif menonjol dalam komunikasi estetik.
3.
Afektif (George F. Kneller dalam jujun, 1990, 175).
Komunikasi dengan mempergunakan bahasa akan mengandung unsur simbolik dan
emotif, artinya, kalau kita berbicara maka pada hakikatnya informasi yang kita
sampaikan mengandung unsur-unsur emotif, demikian juga kalau kita menyampaikan
perasaan maka ekspresi itu mengandung unsur-unsur informatife. Menurut Jujun S.
Suriasumantri, 1990, 175, dalam komunikasi ilmiah proses komunikasi itu harus
terbebas dari unsur emotif, agar pesan itu reproduktif, artinya identik
dengan pesan yang dikirimkan.
Menurut Halliday sebagaimana yang dikutip oleh Thaimah bahwa fungsi bahasa
adalah sebagai berikut:
1.
Instrumental yaitu: penggunaan bahasa untuk mencapai suatu hal
yang bersifat materi seperti makan, minum, dan sebagainya.
2.
Fungsi Regulatoris yaitu: penggunaan bahasa untuk memerintah
dan perbaikan tingkah laku.
3.
Fungsi Interaksional yaitu: penggunaan bahasa untuk saling
mencurahkan perasaan pemikiran antara seseorang dan orang lain.
4.
Fungsi Personal yaitu: seseorang menggunakan bahasa untuk mencurahkan
perasaan dan pikiran.
5.
Fungsi Heuristik yaitu : penggunaan bahasa untuk mengungkap tabir
fenomena dan keinginan untuk mempelajarinya.
6.
Fungsi Imajinatif yaitu: penggunaan bahasa untuk mengungkapkan
imajinasi seseorang dan gambaran-gambaran tentang discovery seseorang dan tidak
sesuai dengan realita (dunia nyata).
7.
Fungsi Representasional yaitu: penggunaan bahasa untuk menggambarkan
pemikiran dan wawasan.
8.
Untuk menelaah bahasa ilmiah perlu dijelaskan tentang pengolongan bahasa.
Ada dua pengolongan bahasa yang umumnya dibedakan yaitu :
1.
Bahasa alamiah yaitu bahasa sehari-hari yang digunakan untuk menyatakan
sesuatu, yang tumbuh atas pengaruh alam sekelilingnya. Bahasa alamiah dibagi
menjadi dua yaitu: bahasa isyarat dan bahasa biasa.
2.
Bahasa buatan adalah bahasa yang disusun sedemikian rupa berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan akar pikiran untuk maksud tertentu. Bahasa buatan
dibedakan menjadi dua bagian yaitu: bahasa istilah dan bahasa antifisial atau
bahasa simbolik.
Perbedaan bahasa alamiah dan bahasa buatan adalah sebagai berikut:
1.
Bahasa alamiah antara kata dan makna merupakan satu kesatuan utuh, atas
dasar kebiasaan sehari-hari, karena bahasanya secara spontan, bersifat
kebiasaan, intuitif (bisikan hati) dan pernyataan langsung.
2.
Bahasa buatan antara istilah dan konsep merupakan satu kesatuan bersifat
relatif, atas dasar pemikiran akal karena bahasanya berdasarkan pemikiran,
sekehendak hati, diskursif (logika, luas arti) dan pernyataan tidak langsung.
Dari uraian di atas tentang bahasa, bahasa buatan inilah yang dimaksudkan
bahasa ilmiah. Dengan demikian bahasa ilmiah dapat dirumuskan, bahasa buatan
yang diciptakan para ahli dalam bidangnya dengan menggunakan istilah-istilah
atau lambang-lambang untuk mewakili pengertian-pengertian tertentu. Dan bahasa
ilmiah inilah pada dasarnya merupakan kalimat-kalimat deklaratif atau suatu
pernyataan yang dapat dinilai benar atau salah, baik menggunakan bahasa
biasa sebagai bahasa pengantar untuk mengomunikasikan karya ilmiah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar