PENGETAHUAN
DAN KEYAKINAN
1. Hubungan antara
Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan tidak sama dengan
keyakinan karena keyakinan bisa saja keliru, tetapi sah saja dianut sebagai
keyakinan. Salah satu syarat untuk mengatakan bahwa seseorang mengetahui sesuatu
adalah bahwa apa yang diklaimnya sebagai yang diketahui dalam kenyataannya
memang demikian adanya. Dengan kata lain, pengetahuan selalu mengandung
kebenaran. Apa yang diketahui harus benar, yaitu harus ditunjang oleh
bukti-bukti berupa acuan pada fakta, saksi, memori, catatan historis, dsb.
Selain itu ada pula istilah proposisi atau hipotesis yang merupakan pernyataan
yang mengungkapkan apa yang diketahui dan atau diyakini sebagai benar yang
perlu dibuktikan lebih lanjut.
Pengetahuan selalu berarti pengetahuan
tentang kebenaran. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan bukan sekedar sikap mental
karena setiap pernyataan atau proposisi yang merupakan pengetahuan harus selalu
mendukung kebenaran dank arena itu selalu punya acuan pada realitas. Tetapi
disini timbul dua pendapat yang berbeda. Pertama, supaya ada pengetahuan,
subjek yang bersangkutan harus sadar bahwa dia tahu. Jika dia tahu tentang
sesuatu, ia harus tahu bahwa ia tahu tentang hal itu. Kedua, meneguhkan
pendapat pertama bahwa pengetahuan baru benar-benar merupakan pengetahuan
ketika subjek tersebut sadar (kembali) akan apa yang mungkin pernah
diketahuinya.
2. Macam-macam
pengetahuan menurut polanya
Dibedakan antara tiga macam
pengetahuan, yaitu pengetahuan/ tahu bahwa, pengetahuan/tahu bagaimana, dan
pengetahuan/tahu tentang.
a. Tahu bahwa, adalah
pengetahuan tentang informasi tertentu, tahu bahwa sesuatu terjadi, tahu bahwa
ini atau itu memang demikian adanya, bahwa apa yang dikatakan memang benar.
Singkatnya tahu bahwa p, dan bahwa p adalah benar. Jenis pengetahuan ini
disebut juga pengetahuan teoritis, pengetahuan ilmiah, walaupun masih pada
tingkat yang tidak begitu mendalam.
b. Tahu bagaimana, adalah
menyangkut bagaimana melakukan sesuatu. Ini yang dikenal sebagai know-how.
Pengetahuan jenis ini berkaitan dengan praktek, maka disebut juga pengetahuan
praktis. Ini berarti bahwa pengetahuan jenis ini hanya bersifat praktis, tetapi
tetap memiliki landasan atau asumsi teoritis tertentu. Hanya saja asumsi dan
konsep teoritis itu telah diaplikasikan menjadi pengetahuan praktis.
c. Tahu
akan/mengenai, adalah sesuatu yang sangat spesifik menyangkut pengetahuan akan
sesuatu atau seseorang melalui pengalaman atau pengenalan pribadi. Ciri
pengetahuan model ini adalah pertama, karena pengetahuan ini didasarkan pada
pengenalan pribadi yang langsung dengan objek, pengetahuan ini mempunyai
tingkat objektifitas yang cukup tinggi. Kedua, bahwa subjek mampu membuat
penilaian tertentu atas objeknya karena pengenalan dan pengalaman pribadi yang
bersifat langsung dengan objek. Ketiga, biasanya pengetahuan ini bersifat
singular, yaitu hanya berkaitan dengan barang atau objek khusus. Artinya,
pengetahuan ini terutama terbatas pada objek yang dikenal secara langsung dan
personal dan bukan menyangkut objek serupa lainnya.
d. Tahu mengapa, adalah
pengetahuan yang jauh lebih mendalam dan serius daripada “tahu bahwa” karena
“tahu mengapa” berkaitan dengan penjelasan. Penjelasan ini tidak hanya berhenti
pada informasi yang ada sebagaimana pada “tahu bahwa” melainkan menerobos masuk
ke balik data atau informasi yang ada. Jadi, “tahu mengapa” jauh lebih kritis.
Menurut plato dan aristoteles, dalam berhadapan dengan benda-benda di alam
semesta ini, manusia pada dasarnya digerakkan oleh tiga perasaan: perasaan
terkejut, perasaan ingin tahu, dan perasaan kagum.
3. Hubungan diantara
empat macam pengetahuan
a. Antara “tahu bahwa”
dan “tahu bagaimana”
Hubungan yang sangat erat yaitu
bahwa “pengetahuan bagaimana” selalu mengandaikan “pengetahuan bahwa”.
Pengetahuan bahwa bisa hanya berhenti pada sekedar tahu. Jadi pengetahuan hanya
demi pengetahuan. Sedangkan pengetahuan bahwa justru talah melangkah lebih jauh
untuk menerapkan pengetahuan bahwa tadi sehingga berguna bagi manusia. Maka,
pengetahuan pada tingkat kedua ini sudah tidak lagi sekedar tahu demi tahu,
melainkan tahu untuk digunakan dan dimanfaatkan bagi kehidupan manusia.
b. Antara “tahu bahwa”
dan “tahu akan”
Tuntutan akan pentingnya “tahu akan”
atau pengetahuan melalui pengenalan bagi “pengetahuan bahwa” sangat penting
khususnya bagi ilmu-ilmu sosial. Maka dalam kaitan dengan ilmu-ilmu sosial
sering sekali ditekankan agar peneliti atau ilmuwan yang bersangkutan perlu
melakukan penelitian dengan melibatkan dirinya secara langsung pada objek
penelitiannya. Jadi, observasi langsung, bahkan hidup, mengenal, menghayati,
dan merasakan kehidupan dari orang-orang yang menjadi objek penelitiannya
sangat diperlukan untuk menjamin obyektivitas pengetahuannya tentang
orang-orang yang ditelitinya.
c. Antara “tahu
bagaimana” dan “tahu akan”
Dengan mengetahui sesuatu secara
pribadi, seseorang pada akhirnya semakin tahu bagaimana bertindak secara tepat.
Contohnya : karena pemiliki computer tahu secara pribadi tentang sebuah
computer, ia tahu dengan baik sekali bagaimana menggunakannya.
d. Antara “tahu mengapa”
dan ketiga jenis pengetahuan lainnya
Pertama, kita tidak hanya berhenti
pada “tahu bagaimana”, melainkan kita perlu melangkah lebih jauh untuk
mengetahui mengapa sesuatu terjadi sebagaimana adanya. Agar supaya pengetahuan
kita bahwa sesuatu itu terjadi sebagaimana adanya benar-benar akurat, kita
membutuhkan “pengetahuan mengapa”.
Kedua, untuk bisa tahu bagaimana
melakukan sesuatu, dalam banyak kasus kita perlu mengetahui mengapa sesuatu
terjasi. “Tahu bagaimana” sesungguhnya merupakan aplikasi dan konsekuaensi dari
pengetahuan kita mengenai mengapa sesuatu terjadi, yaitu mengenai sebab dan
akibat.
Ketiga, dalam kasus tertentu, untuk
bisa mempunyai “pengetahuan mengapa” sesuatu terjadi, kita perlu mempunyai
pengenalan pribadi, kita perlu “tahu akan”, yaitu tahu secara mendalam tentang
hal itu.
4. Skeptisisme
Apakah pengetahuan itu mungkin
dicapai? Apakah kita benar-benar tahu? Bagaimana kita merasa yakin bahwa kita
tahu? Pertanyaan-pertanyaan ini telah dikemukakan oleh orang-orang yang
bersikap skeptic terhadap adanya pengetahuan. Inilah yang selanjutnya dikenal
dengan skeptisisme. Sikap dasar skeptisisme adalah bahwa kita tidak pernah tahu
tentang apapun.
Gorgias, mengatakan bahwa (a) tidak
ada yang benar-benar ada (b) kalaupun ada sesuatu yang ada didunia ini, kita
tidak bisa mengetahui, (c) kalaupun kita bisa mengetahuinya kita tidak bisa
mengkomunikasikan apa yang kita ketahui itu kepada orang lain.
Pertama-tama, perlu dikatakan bahwa
skeptisisme telah menyumbang sesuatu yang sangat berharga bagi ilmu
pengetahuan, yaitu sikap meragukan secara positif setiap klaim dan bukti yang
kita peroleh. Kedua, kenyataan menunjukkan bahwa selalu ada konsep yang
berpasangan hitam dan putih, benar dan salah, kecil dan besar, berat dan
ringan, tahu dan tidak tahu. Karena skeptisisme menerima bahwa manusia selalu
tidak tahu, yaitu bahwa pengetahuan manusia adalah hal yang mustahil dicapai,
itu sudah dengan sendirinya menunjukkan bahwa yang sebaliknya pun haris
diterima sebagai mungkin. Ketiga, skeptisisme yang radikal akan melahirkan
berbagai kontradikisi. Kaum skeptic mengatakan bahwa “semua keyakinan kita
perlu diragukan” haruslah benar. Padahal dengan pernyataan tersebut berarti
pernyataan kaum skeptic bahwa “semua keyakinan kita perlu diragukan” juga harus
diragukan. Jadi pernyataan kaum skeptic bahwa “semua keyakinan kita perlu
diragukan” juga tidak benar, dank arena itu jangan dianggap serius.
SUMBER
PENGETAHUAN
Rasionalisme
Secara etimologis menurut Bagus (2002), rasionalisme berasal dari kata
bahasa Inggris rationalims, dan menurut Edwards (1967) kata ini
berakar dari bahasa Latin ratio yang berarti “akal”, Lacey
(2000) menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya rasionalisme adalah sebuah
pandangan yang berpegang bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan
pembenaran. Kaum Rasionalisme mulai dengan sebuah pernyataan aksioma dasar yang
dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan dari ide yang menurut
anggapannya adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia.[1]
Dalam pembahasan tentang suatu teori pengetahuan, maka
Rasionalisme menempati sebuah tempat yang sangat penting. Paham ini dikaitkan
dengan kaum rasionalis abad ke-17 dan ke-18, tokoh-tokohnya ialah Rene
Descartes, Spinoza, leibzniz, dan Wolff, meskipun pada hakikatnya akar
pemikiran mereka dapat ditemukan pada pemikiran para filsuf klasik misalnya
Plato, Aristoteles, dan lainnya. Paham ini beranggapan, ada prinsip-prinsip
dasar dunia tertentu, yang diakui benar oleh rasio manusi. Dari prinsip-prinsip
ini diperoleh pengetahuan deduksi yang ketat tentang dunia. Prinsip-prinsip
pertama ini bersumber dalam budi manusia dan tidak dijabarkan dari pengalaman,
bahkan pengalaman empiris bergantung pada prinsip-prinsip ini. Prinsip-prinsip tadi oleh
Descartes kemudian dikenal dengan istilah substansi, yang tak lain adalah ide
bawaan yang sudah ada dalam jiwa sebagai kebenaran yang tidak bisa diragukan
lagi. Ada tiga ide bawaan yang diajarkan Descartes, yaitu:
1.
Pemikiran; saya memahami diri saya makhluk
yang berpikir, maka harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.
2.
Tuhan merupakan wujud yang sama sekali sempurna; karena
saya mempunyai ide “sempurna”, mesti ada sesuatu penyebab sempurna untuk ide
itu, karena suatu akibat tidak bisa melebihi penyebabnya.
3.
Keluasaan; saya mengerti materi sebagai
keluasaan atau ekstensi, sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh
ahli-ahli ilmu ukur.
Sementara itu menurut logika Leibniz yang dimulai dari
suatu prinsip rasional, yaitu dasar pikiran yang jika diterapkan dengan tepat
akan cukup menentukan struktur realitas yang mendasar. Leibniz mengajarkan
bahwa ilmu alam adalah perwujudan dunia yang matematis. Dunia yang nyata
ini hanya dapat dikenal melaui penerapan dasar-dasar pemikiran. Tanpa itu
manusia tidak dapat melakukan penyelidikan ilmiah. Teori ini berkaitan dengan
dasar pemikiran epistimologis Leibniz, yaitu kebenaran pasti/kebenaran logis
dan kebenaran fakta/kebenaran pengalaman. Atas dasar inilah yang kemudian
Leibniz membedakan dua jenis pengetahuan. Pertama; pengetahuan
yang menaruh perhatian pada kebenaran abadi, yaitu kebenaran logis. Kedua;pengetahuan
yang didasari oleh observasi atau pengamatan, hasilnya disebut dengan
“kebenaran fakta”.
Paham Rasionalisme ini beranggapan bahwa sumber
pengetahuan manusia adalah rasio. Jadi dalam proses perkembangan ilmu
pengetahuan yang dimiliki oleh manusia harus dimulai dari rasio. Tanpa rasio
maka mustahil manusia itu dapat memperolah ilmu pengetahuan. Rasio itu
adalah berpikir. Maka berpikir inilah yang kemudian membentuk pengetahuan. Dan
manusia yang berpikirlah yang akan memperoleh pengetahuan. Semakin banyak
manusia itu berpikir maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat.
Berdasarkan pengetahuan lah manusia berbuat dan menentukan tindakannya.
Sehingga nantinya ada perbedaan prilaku, perbuatan,
dan tindakan manusia sesuai dengan perbedaan pengetahuan yang didapat
tadi. Namun demikian, rasio juga tidak bisa berdiri sendiri. Ia juga butuh
dunia nyata. Sehingga proses pemerolehan pengetahuan ini ialah rasio yang
bersentuhan dengan dunia nyata di dalam berbagai pengalaman empirisnya. Maka
dengan demikian, seperti yang telah disinggung sebelumnya kualitas pengetahuan
manusia ditentukan seberapa banyak rasionya bekerja. Semakin sering rasio
bekerja dan bersentuhan dengan realitas sekitar maka semakin dekat pula manusia
itu kepada kesempunaan.
Prof. Dr. Muhmidayeli, M.Ag menulis dalam bukunya
Filsafat Pendidikan yaitu “Kualitas rasio manusia ini tergantung kepada
penyediaan kondisi yang memungkinkan berkembangnya rasio kearah yang memedai
untuk menelaah berbagai permasalahan kehidupan menuju penyempurnaan dan
kemajuan” Dalam hal ini penulis memahami yang dimaksud penyedian kondisi diatas
ialah menciptakan sebuah lingkungan positif yang memungkinkan manusia
terangsang untuk berpikir dan menelaah berbagai masalah yang nantinya
memungkinkan ia menuju penyempunaan dan kemajuan diri.
Karena pengembangan rasionalitas manusi sangat
bergantung kepada pendyagunaan maksimal unsur ruhaniah individu yang sangat
tergantung kepada proses psikologis yang lebih mendalam sebagai proses mental,
maka untuk mengembangkan sumber daya manuia menurut aliran rasionalisme ialah
dengan pendekatan mental disiplin, yaitu dengan melatih pola dan sistematika
berpikir seseorang melalui tata logika yang tersistematisasi sedemikian rupa
sehingga ia mampu menghubungkan berbagai data dan fakta yang ada dalam
keseluruhan realitas melalui uji tata pikir logis-sistematis menuju pengambilan
kesimpulan yang baik pula.
kesan dan gagasan. Kesan adalah persepsi yang masuk
melalui akal budi, secara langsung, sifatnya kuat dan hidup. Sementara gagasan
adalah persepsi yang berisi gambaran kabur tentang kesan-kesan. Gagasan bisa
diartikan dengan cerminan dari kesan. Contohnya, jika saya melihat sebuah
“rumah”, maka punya kesan tertentu tentang apa yang saya lihat (rumah), jika
saya memikirkan sebuah rumah maka pada saat itu saya sedang memanggil suatu
gagasan. Menurut Hume jika sesorang akan diberi gagasan tentang “apel” maka
terlebih dahulu ia harus punya kesan tentang “apel” atau ia harus terlebih
dahulu mengenal objek “apel”. Jadi menurut Hume jika seandainya manusia itu
tidak memiliki alat untuk menemukan pengalaman itu buta dan tuli misalnya, maka
manusia itu tidak akan dapat memperoleh kesan bahkan gagasan sekalipun. Dalam
artian ia tidak bisa memperoleh ilmu pengetahuan.[2]
Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui ide tersebut, namun
manusia tidak menciptakannya, tetapi mempelajari lewat pengalaman. Ide tersebut
kiranya sudah ada “ di sana” sebagai bagian dari kenyataan dasar dan pikiran
manusia. Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami prinsip,
maka prinsip itu harus ada, artinya prinsip harus benar dan nyata. Jika prinsip
itu tidak ada, orang tidak mungkinkan dapat menggambarkannya. Prinsip dianggap
sebagai sesuatu yang a priori, dan karenanya prinsip tidak
dikembangkan dari pengalaman, bahkan sebaliknya pengalaman hanya dapat
dimengerti bila ditinjau dari prinsip tersebut. Dalam perkembangannya
Rasionalisme diusung oleh banyak tokoh, masing-masingnya dengan ajaran-ajaran
yang khas, namun tetap dalam satu koridor yang sama.
Pada abad ke-17 terdapat beberapa tokoh kenamaan rasionalis seperti Plato
sebagai pelopornya yang disebut juga sebagai „rasionalisme‟ atau „platonisme‟ , René
Descartes (1590 – 1650) yang juga dinyatakan sebagai bapak filsafat modern.
Semboyannya yang terkenal adalah “cotigo ergo sum” (saya bepikir, jadi
saya ada). Tokoh-tokoh lainnya adalah J.J. Roseau (1712 – 1778) dan Basedow
(1723 – 1790), Gottfried Wilhelm von Leibniz, Christian Wolff dan Baruch
Spinoza. Perkembangan pengetahuan mulai pesat pada abad ke 18 nama-nama seperti
Voltaire, Diderot dan D‟Alembert
adalah para pengusungnya.
· Empirisisme
Empirisme secara etimologis menurut Bagus (2002) berasal dari kata bahasa
Inggris empiricism dan experience. Kata-kata
ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria)
dan dari kata experietia yang berarti “berpengalaman dalam”,“berkenalan
dengan”, “terampil untuk”. Sementara menurut Lacey (2000) berdasarkan akar
katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa
pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang
menggunakan indera.[3]
Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai
empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari
dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk
dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah satu-satunya
sumber pengetahuan, dan bukan akal.
Berdasarkan Honer and Hunt (2003) aliran ini adalah tidak mungkin untuk
mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita
terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia,
yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan.
Kaum empiris cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang
mempunyai peluang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak tidak akan
pernah dapat dijamin. Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan
manusia dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk
meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata
“tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus
diyakinkan oleh pengalamannya sendiri. Tokoh yang dianggap sebagai benih dari
empisisme adalah Aristoteles, seperti juga pada rasionalisme, maka pada
empirisme pun terdapat banyak tokoh pendukungnya yang tidak kalah populernya.
Tokoh-tokoh dimaksud di antarnya adalah David Hume, John Locke dan Bishop
Berkley.
· Persamaan dan
perbedaan antara Rasionalisme dan Empirisme
Terdapat dua aspek umum dalam realisme yang digambarkan dengan melihat pada
realisme mengenai dunia keseharian dari obyek makroskopik beserta
sifat-sifatnya. Aspek pertama, yaitu terdapat sebuah klaim tentang dimensi
eksistensi suatu obyek yang nyata (terlihat). Sementara itu, aspek yang kedua
dari realisme tentang dunia keseharian dari obyek makroskopis beserta
sifat-sifatnya memiliki dimensi kebebasan dalam hal kepercayaan yang dianut
seseorang, bahasa yang digunakan, skema konseptual, dan sebagainya (realisme
generik).
Sifat dan penjelasan-penjelasan yang masuk akal dari paham realisme
merupakan issu-issu yang hangat diperdebatkan dalam metafisik kontemporer
mengenai berbagai obyek dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Hume (1999) di dalam aliran empiris terdapat tiga prinsip pertautan
ide. Pertama, prinsip kemiripan yaitu mencari kemiripan antara apa
yang ada di benak kita dengan kenyataan di luar. Kedua, prinsip
kedekatan, misalnya apabila kita memikirkan sebuah rumah, maka berdasarkan
prinsip kedekatan kita juga berpikir tentang adanya jendeka, pintu, atap,
perabot sesuai dengan gambaran rumah yang kita dapatkan lewat pengalaman
inderwi sebelumnya. Ketiga, prinsip sebab- akibat yaitu jika kita
memikirkan luka, kita pasti memikirkan rasa sakit akibatnya. Bagi Hume, ilmu
pengetahuan tidak pernah mampu memberi pengetahuan yang niscaya tentang dunia
ini.
Kebenaran yang bersifat a priori seperti ditemukan dalam
matematika, logika dan geometri memang ada, namun menurut Hume, itu tidak
menambah pengetahuan kita tentang dunia. Pengetahuan kita hanya bisa bertambah
lewat pengamatan empiris atau secara a posteriori. Perbedaan antara
rasionalisme dengan empiris secara umum adalah kalau pada aliran rasionalisme
pengetahuan itu berupa a priori, bersumber dari penalaran dan
pembuktian-pembuktian pada logika dan matematika melalui deduksi, sedangkan
pada aliran empirisisme pengetahuan bersumber pada pengalaman , terutama pada
pengetahuan dalam pembuktian-pembutiannya melalui eksperimentasi, observasi,
dan induksi.
Perbedaan antara Rasionalisme dan Empirisisme oleh Immanuel Kant
diambil jalan tengahnya, yaitu Immanuel Kant mengajukan sintesis a priori.
Menurutnya pengetahuan yang benar bersumber rasio dan empiris yang sekaligus
bersifat a priori dan a posteriori. Sebagai
gambaran, kita melihat suatu benda dikarenakan mata kita melihat ke arah benda
tersebut (rasionalisme) dan benda tersebut memantulkan sinar ke mata kita
(empirisme).
Menurut Edward (1967) secara terminologi rasionalisme dipandang sebagai
aliran yang menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan,
mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengalaman inderawi.
Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang memenuhi syarat semua
pengetahuan ilmiah. Pengalaman hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan yang
diperoleh akal. Akal tidak memerlukan pengalaman. Akal dapat menurunkan
kebenaran dari diri sendiri, yaitu atas dasar asas-asas petama yang pasti.[4]
Menurut Kattsoff (2004) rasionalisme tidak mengingkari nilai pengalaman,
melainkan hanya dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Karenanya
aliran ini yakin bahwa kebenaran dan kesehatan terletak pada ide, dan bukannya
di dalam barang sesuatu. Jika kebenaran bermakna sebagai mempunyai ide yang
sesuai dengan atau dengan yang menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya
dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja.
Persamaan antara rasionalisme dan empirisme adalah rasio dan indra manusia
sama-sama berperan dalam pembentukan pengetahuan.
KEBENARAN ILMIAH
Benar adalah sesuatu yang apa adanya
atau sesuai kenyataan yang ada, sebuah fakta tentang realita berdasarkan
data-data yang ada. Sedangkan “kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu kata
benda yang kongkret maupun abstrak (Hamami dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM,
2010 : 135).
Lebih lanjut Hamami mengatakan bahwa
setiap subjek yang memiliki pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian
yang berbeda-beda satu dengan lainnya tentang kebenaran, karena kebenaran tidak
bisa dilepaskan dari makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement(proposisi).
Senada dengan Hamami, Louis Kattsoff (1996 : 178) mengatakan “kebenaran”
menunjukkan bahwa makna sebuah pernyataan (proposisi) sunggung-sungguh
merupakan halnya, bila proposisi bukan merupakan halnya, maka kita mengatakan
bahwa proposisi itu sesat atau bila proposisi itu mengandung kontradiksi
(bertentangan) maka kita dapat mengatakan bahwa proposisi itu mustahil. Artinya
kebenaran berkaitan erat dengan kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan,
dan nilai kebenaran itu sendiri. Berikut penjelasan Hamami tentang kaitan
kebenaran dengan beberapa hal di atas.
Pertama, kebenaran berkaitan dengan
kualitas pengetahuan. Artinya kebenaran itu dipengaruhi oleh jenis pengetahuan
yang dimiliki oleh subjek. Jika subjek memiliki pengetahuan biasa ataucommon
sense knowledge, maka pengetahuan seperti ini akan menghasilkan kebenaran
yang bersifat subjektif, sangat tergantung pada subjek yang melihat.
Selanjutnya jika subjek memiliki pengetahuan ilmiah yaitu pengetahuan yang
sudah memiliki objek yang khas atau spesifik dengan pendekatan metodologis yang
khas pula, yaitu adanya kesepakatan diantara ahli yang ada. Maka kebenaran
dalam konteks ini bersifat relatif, yaitu akan selalu mendapatkan revisi atau
perubahan jika ditemukan kebanaran yang baru pada penelitian-penelitian yang
akhir dan mendapat persetujuan (agreement) dari konvensi ilmuan sejenis.
Kemudian jenis pengetahuan pengetahuan filsafati, yaitu melalui pendekatan
filsafati, yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang
analitis, kritis, dan spekulatif. Kebenaran pengetahuan ini bersifat
absolut-intersubjektif. Artinya kebenaran ini merupakan pendapat yang selalu
melekat pada pandangan seorang filsafat itu dan selalu mendapat pembenaran dari
filsuf kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran sama.
Jenis pengetahuan yang terakhir
adalah kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam agama, yang memiliki sifat
dogmatis, artinya kebenaran dalam agama sudah tertentu dan sesuai ajaran agama
tertentu, kemudian di yakini sesuai dengan keyakinan subjek untuk memahaminya.
Kebenaran makna kandungan kitab suci berkembang secara dinamis sesuai dengan
perkembangan waktu, akan tetapi kandungan maksud ayat kitab suci tidak dapat
dirubah dan sifatnya absolut.
Kedua, kebanaran dikaitkan dengan sifat
atau karakteristik tentang cara atau metode apa yang digunakan subjek dalam
membangun pengetahuannya itu. Apakah ia membangun pengetahuannya dengan
penginderaan atau sense experience, akal pikir, ratio, intuisi,
atau keyakinan. Dimana cara atau metode yang digunakan subjek akan mempengaruhi
karakteristik kebenaran, sehingga harus dibuktikan juga dengan metode atau cara
yang sama. Misalnya, jika subjek memperoleh kebenaran melalui sense
experiense, maka harus dibuktikan juga dengan sense experience,
bukan dengan cara yang berbeda, begitu pula dengan yang lainnya.
Ketiga, nilai kebenaran dikaitkan dengan
ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Artinya kebenaran ini berkaitan
dengan relasi antara subjek dan objek. Manakala subjek memiliki dominasi yang
tinggi dalam membangun suatu kebenaran. Maka kebenaran itu akan bersifat
subjektif, artinya nilai kebenaran yang terkandung di dalam pengetahuan itu
sangat bergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau sebaliknya,
jika objek lebih berperan maka sifat pengetahuannya objektif, seperti ilmu
alam.
Sebagai pelengkap bahasan ini,
berikut kami kemukakan tiga penafsiran utama tentang kebenaran menurut Sahakian
dan Sahakian (1966 : 23) adalah sebagai berikut :
1. Kebanaran
sebagai sesuatu yang mutlak (absolut)
2. Kebenaran
sebagai subjektivitas atau pendapat pribadi
3. Kebenaran
sebagai sesuatu yang mustahil dan sulit untuk di jangkau
Penafsiran utama tentang kebenaran
menurut Sahakian dan Sahakian merupakan polemik yang belum terselesaikan ketika
seorang filsuf membicarakan kebenaran. Apakah ada kebenaran yang bersifat
mutlak atau absolut? Buktinya ilmu pengetahuan terus berkembang dan
mempengaruhi sudut pandang manusia tentang kebenaran. Atau jangan-jangan
kebenaran itu hanyalah subjektivitas seseorang atau kelompok? Bahkan
jangan-jangan kebenaran merupakan hal yang sulit dan mustahil untuk di jangkau.
TEORI-TEORI
KEBENARAN
Pada bagian ini akan kami bahas
tentang teori-teori kebenaran sepanjang sejarah pemikiran manusia. Perbincangan
mengenai kebenaran sudah dimulai sejak Plato melalui metode dialog, kemudian
dilanjutkan oleh Aristoteles. Menurut seorang filsuf Jaspers sebagaimana
dikutip oleh Hammersa bahwa sebenarnya para pemikir sekarang hanya melengkapi
dan menyempurnakan filsafat Plato dan filsafat Aristoteles (Hamami dalam Tim
Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2010 : 138). Hal ini tentu berdasarkan argumentasi
yang kuat berdasarkan pemikiran yang mendalam, yang berlandaskan pada data-data
sejarah yang ada. Plato dianggap sebagai filsuf yang membangun teori
pengetahuan yang cukup lengkap sebagai teori pengetahuan yang awal. Dari
pemikiran Plato kemudian muncul teori-teori pengetahuan baik sebagai kritik
atau sebagai support atas teori yang sudah dibangun Plato.
Berikut ini adalah penjelasan
mengenai teori-teori kebenaran yang kami coba rangkum dari beberapa sumber
ilmiah :
1. Teori
kebenaran korespondensi
Kebenaran
menurut persfektif teori korespondensi adalah pernyataan dikatakan benar jika
sesuai dengan kenyataan atau fakta yang ada. George E. Moore (dalam Sahakian
dan Sahakian, 1966 : 24) mengatakan kebenaran sebagai “truth as the
correspondence of ideas to reality”, yaitu kebenaran adalah kesesuaian
antara ide atau gagasan-gagasan dengan realita. Sebaliknya, jika pernyataan
bertentangan dengan kenyataan atau fakta yang ada, maka pernyataan tersebut
dianggap sebagai penyataan yang “sesat”. Misalnya, ada pernyataan yang
mengatakan Bang Rhoma adalah seorang penyanyi dangdut. Kalau pernyataan
tersebut bersesuaian dengan fakta yang ada di kenyataan yang sebenarnya maka
itu dianggap sebagai “kebenaran”. Jika ternyata Bang Rhoma bukan seorang
penyanyi dangdut, melainkan seorang Presiden. Maka pernyataan tersebut dianggap
sebagai bukan “kebenaran”.
Makna
“sesuai” (correspond) dalam teori ini masih menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada kritik terhadap teori kebenaran
korespondensi. Kalau kebenaran selalu diukur dengan fakta-fakta yang ada,
bagaimana dengan ide-ide yang bersifat kejiwaan, apakah ada fakta yang bersifat
kejiwaan. Lalu bagaimana membuktikan hubungan antara ide-ide tersebut, padahal
ide-ide tersebut bersifat abstrak, sulit untuk dibuktikan dengan indera
manusia. Misalnya, Pak Soleh dikatakan sebagai seorang yang soleh, kalau
pernyataan ini kemudian dibuktikan kebenarannya dengan makna sesuai atau
korespondensi, maka tentu subjek akan melihat pada perilaku-perilaku beragama
yang tampak pada Pak Soleh. Pertanyaannya, apakah “kesolehan” Pak Soleh bisa
sepenuhnya diukur dengan observasi?, bukankah kesolehan di dominasi oleh aspek
kejiwaan Pak Soleh?.
Pertanyaan-pertanyaan
di atas adalah kelemahan-kelemahan para realisme atau paham yang bertolak dari
kenyatan-kenyataan. Karena kebenaran korespondensi dianut oleh para realisme
(Kattsoff, 1996 : 184).
2. Teori
kebenaran koherensi
Berkebalikan
dengan paham korespondensi, paham koherensi dianut oleh para pendukung
idealisme. Banyak kita dalam kehidupan sehari-hari menggunakan paham ini.
Intinya menurut paham ini “kebenaran” adalah jika pernyataan sebjek saling
berhubungan dengan pernyataan subjek yang lainnya atau jika makna yang
dikandungnya saling berhubungan dengan pengalaman kita (Kattsoff, 1996 : 181).
Misalnya, “Bang Rhoma adalah penyanyi dangdut”, pernyataan ini akan dianggap
benar jika fakta lain mendukung pernyataan ini. Tetapi, pernyataan ini akan
dianggap “sesat” apabila fakta-fakta lain yang telah ada tidak mendukung
pernyataan ini atau mengandung kontradiksi.
Kritik
terhadap paham ini saya sajikan dalam sebuah kasus. Di dalam penegakkan hukum
di pengadilan terhadap kasus pembunuhan yang dilakukan Si A terhadap Si B.
Untuk membuktikan pembunuhan ini benar atau tidak, kemudian pengadilan
mendatangkan beberapa saksi, yaitu Si C, Si D, dan Si E. Si C dan Si D
cenderung membela Si A, mungkin karena sebagai teman, keluarga, atau karena
sebab lain. Sehingga Si C dan Si D memeberikan kesaksian yang sama (koheren)
atau saling berhubungan yang menyebabkan keringanan terhadap Si A. Sedangkan Si
E memberikan kesaksian berbeda yang memberatkan Si A, Si E menjelaskan secara
jujur fakta-fakta pembunuhan yang dia lihat. Setelah persidangan selesai, hakim
menyatakan bahwa Si A tidak bersalah dan di bebaskan.
Dari contoh
kasus di atas disimpulkan bahwa paham koherensi akan selalu berpihak pada
pernyataan-pernyataan yang dianggap koheren, walaupun terkadang pernyataan
tersebut bukan fakta yang sesungguhnya. Kemudian paham koherensi cenderung
mengabaikan pernyataan lain yang dianggap tidak koheren, walaupun sesungguhnya
pernyataan itu adalah fakta yang sesunggunya.
3. Teori
kebenaran pragmatis
Teori
kebenaran pragmatisme adalah paham tentang kebenaran yang diukur dari
kegunaannya dalam kehidupan manusia. Bagi seorang pragmatis kebenaran tentang
suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat
fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar,
jika pernyataan atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis
dalam kehidupan manusia (Suriasumantri, 2010 : 58-59).
Dapat
dipahami bahwa kebenaran dalam pandangan pragmatisme adalah sebatas kegunaan
praktis dalam kehidupan. Apabila suatu proposisi memiliki kegunaan praktis maka
akan dipandang sebagai suatu kebenaran. Sebaliknya, apabila proposisi tidak
memiliki kegunaan praktis maka tidak dipandang sebagai suatu kebenaran,
walaupun ada kemungkinan sesuatu yang tidak bersifat fungsional tersebut adalah
kebenaran yang sesungguhnya.
Kebenaran
dalam pandangan pragmatisme akan membawa kebenaran pada masa kadaluarsa (expired).
Artinya ada masanya kebenaran yang sudah dianggap suatu kebenaran akan dibuang,
karena tidak lagi bersifat fungsional. Kebanaran dalam pandangan pragmatis juga
tidak fleksibel bagi semua konteks, karena apabila kebenaran diukur dari segi
fungsionalnya, maka bagaimana kebenaran akan berguna bagi konteks lain yang
secara hakikat memiliki perbedaan signifikan dengan konteks yang lainnya.
4. Kebanaran
menurut paham-paham empiris
Definisi-definisi
kebenaran menurut paham-paham empiris berdasarkan atas berbagai segi
pengalaman, dan biasanya merujuk pada pengalaman inderawi seseorang. Paham
tersebut memandang proposisi bersifat meramalkan (predictive),
atau hipotesis, dan memandang kebenaran proposisi sebagai
terpenuhinya hipotesa (Kattsoff, 1996 : 186).
Definisi di
atas mengantarkan kita pada suatu pemahaman, bahwa kebenaran menurut
paham-paham empiris memiliki subjektivitas yang tinggi. Jika demikian, maka
kebenaran akan memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap orang yang
memaknainya. Disebabkan perbedaan pengalaman-pengalaman yang dimiliki subjek.
Selanjutnya kebenaran akan bersifat nisbi, tidak memiliki tolak ukur yang
pasti. Sehingga siapa saja bisa mengklaim bahwa dia adalah yang benar.
5. Teori
kebenaran sintaksis
Penganut
teori kebenaran sintaksis berpijak bahwa suatu pernyataan dikatakan benar jika
pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis atau gramatika yang baku. Atau
dengan kata lain apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari
hal yang di syaratkan maka proposisi itu tidak memiliki arti. Teori ini
berkembang di antara filsuf analisa bahasa, terutama yang begitu ketat terhadap
pemakaian gramatika seperti Schleiemacher (Hamami, Tim Dosen Filsafat UGM,
2010).
6. Teori
kebenaran semantis
Teori ini
kebanyakan dianut dan berkembang di kalangan filsuf analitika bahasa. Kebenaran
menurut faham ini adalah suatu proposisi dinilai benar ditinjau dari segi arti
atau makna, apakah proposisi yang merupakan pangkal tumpunya itu mempunyai
referensi yang jelas. Artinya teori ini bertugas untuk mengungkap ke sahihan
proposisi dalam referensinya. Pernyataan yang mengandung kebenaran adalah
pernyataan yang memiliki arti atau makna yang sesungguhnya dengan merujuk pada
kenyataan. Arti yang bersifat definitif, yaitu arti yang dengan jelas menunjuk
ciri yang khas dari sesuatu yang ada (Hamami, Tim Dosen Filsafat UGM, 2010).
Seperti “Irigasi menyebabkan kesulitan dalam mengatur pengairan”, pernyataan
ini akan dikatakan benar bila menunjukkan makna yang sahih tentang bendungan
dalam kenyataan yang sesungguhnya. Tentu kebenaran pernyataan diatas akan di
cek langsung ke referensinya.
SIFAT
KEBENARAN ILMIAH
Bagian sebelumnya telah membahas
tentang pengertian kebenaran, meskipun kebenaran di maknai dengan definisi yang
berbeda-beda, tapi bisa kita ambil pengertian bahwa kebenaran ilmiah atau ilmu
sangat erat kaitannya dengan pengetahuan, metode atau cara membangun suatu
pengetahuan, dan relasi antara subjek dan objek. Telah dikemukakan juga
teori-teori kebenaran yang berkembang di dalam kefilsafatan.
Di bagian ini kita akan membahas
mengenai sifat kebenaran ilmiah. Hamami (Tim Dosen Filsafat UGM, 2010)
mengatakan bahwa kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian, artinya suatu
kebenaran tidak mungkin muncul tanpa adanya prosedur baku yang harus dilalui.
Prosedur baku maksudnya adalah tahap-tahap yang harus dilalui dalam memperoleh
pengetahuan ilmiah yang pada hakikatnya berupa teori-teori melalui metode ilmiah
yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu.
Lebih lanjut Hamami mengatakan bahwa
kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif, maksudnya bahwa
kebenaran dari suatu teori, atau lebih tinggi dari aksioma (pernyataan yang
dterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian) atau paradigma, harus didukung oleh
fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam keadaan objektivitasnya.
Mengacu pada satatus ontologis
objek, menurut Hamami kebenaran dalam ilmu dibedakan menjadi dua jenis teori,
yaitu kebenaran korespondensi untuk ilmu-ilmu alam dan kebenaran koherensi atau
konsistensi untuk ilmu-ilmu sosial, kemanusian, dan logika. Kemudian hal yang
sangat penting dan perlu diperhatikan dalam hal kebenaran yaitu bahwa kebenaran
dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para
ilmuwan di bidangnya. Sehingga kebenaran-kebenaran dalam ilmu akan terus
berubah dan berkembang berdasarkan penemuan-penemuan terbaru yang mampu
menentang teori-teori terdahulu dalam bidang ilmu yang sama. Serta mendapatkan
persetujuan konvensional dari para ilmuwan di bidang yang sama.
MASALAH KEPASTIAN DAN FALIBILISME
MODERAT
1. Masalah
Kepastian kebenaran Ilmiah
Ilmu pengetahuan tidak akan pernah memberikan suatu
formulasi final dan absolute tentang seluruh universum. Pengakuan ini dalam
filsafat ilmu pengetahuan disebut falibilisme. Falibilisme tidak berarti bahwa
ilmu pengetahuan salah sama sekali, melainkan bahwa ilmuwan harus bersikap
kritis terhadap apa yang sudah dicapainya.
2. Fabilisme
dan Metode Ilmu Pengetahuan
Falibilisme ilmu pengetahuan berasal dari dua sumber, yaitu sebagai konsekuensi
dari metode ilmu pengetahuan, dan dari objek ilmu pengetahuan yaitu universum
alam. Beberapa indikasi metodologis bisa dilihat sebagai alas an dari falibilisme
moderat ini.
1) Peneliti sendiri tidak pernah merasa
pasti dengan apa yang dicapainya sendiri
2) Fokus utama dari kegiatan penelitian ilmiah
adalah verifikasi atau hipotesis
3) Karena metode induksi, seperti akan dibahas
lebih lanjut, selalu tidak legkap
4) Setiap hipotesis pada dasarnya tidak pasti.
Maka dengan keempat alas an ini kita dapat mengatakan
bahwa pengetahuan ilmiah itu tidak luput dari kekeliruan dan selalu terbuka
pada kritik dan perbaikan.
3. Falisme
dan Objek Ilmu Pengetahuan
Objek ilmu pengetahuan adalah peristiwa-peristiwa alam. Alam tidak berada dalam
kondisi statis, melainkan selalu mengalami evolusi. Karena itu selalu saja ada
hal yang baru dan tak terduga, bahkan oleh hukum ilmiah yang sudah ditemukan.
a. Realitas
Objek
Ilmuawan yang baik adalah seorang realis yang tidak memandang konsep-konsep
ilmiahnya semata-mata sebagai hasil imajinasi tanpa hubungannya dengan dunia
nyata melainkan merupakan hasil dari pemikiran tentang dunia nyata. Objek ilmu
pengetahuan dapat dikatakan nyata atau real jika sekurang-kurangnya mengandung
tiga arti, yaitu sebagai berikut.
1) Yang
nyata berarti lepas dari pikiran manusia
2) Meskipun
dunia real yang dipelajari ilmu pengetahuan bebas dari pemikiran manusia,
realitas itu sendiri dapat dikatakan real jika memang dapat dikenal.
3) Realitas
yang dibicarakan ilmu pengetahuan adalah realitas public, realitas yang menjadi
perhatian banyak orang. Yang real berarti yang memiliki dimensi sosial.
Jika kebenaran pengetahuan ilmiah tidak dapat dilihat sebagai kenyataan public,
yang diterima dan didiskusikan public, maka pengetahuan akan menjadi pendapat
pribadi yang pada akhirnya bisa tidak dapat dipercaya oleh siapapun.
b. Evolusi
objek pengetahuan ilmiah
Pengertian mengenai evolusi objek menyangkut dua aspek, yaitu
1) Objek
pengetahuan ilmiah selalu berubah-ubah sehingga pengetahuan yang kita capai,
sekalipun sangat akurat, harus ditinjau kembali
2) Objek
dari pengetahuan kita selalu berkembang kepada regularitas.
Maka dengan dua alasan tersebut, pengetahuan kita selalu rentan terhadap
kesalahan, tetapi tetap ada harapan akan tercapainya suatu pemahaman yang lebih
baik tentang alam semesta, asalkan penelitian terus dilakukan dari generasi ke
generasi. Jika penelitian berhenti maka dua akibat dapat terjadi, yaitu
1) ilmu
tidak lagi menjelaskan realitas yang sesungguhnya karena realitas selalu
berubah
2) ilmu
pengetahuan memutuskan hubungannya dengan realitas yang semakin lama semakin
terbuka untuk diketahui.
ILMU,
TEKNOLOGI DAN KEBUDAYAAN
Jika dicermati
secara sepintas antara ilmu, teknologi dan kebudayaan memiliki hubungan yang
sangat erat. Hubungan tersebut dapat dipahami dalam bingkai yang sangat luas
dari kehidupan manusia. Membicarakan hubungan istilah-istilah tersebut
sesungguhnya dapat ditelusuri dengan memahami terlebih dahulu pengertian
masing-masing istilahnya. Dengan ungkapan lain, dapat disebutkan ketiga istilah
itu berkaitan secara definitif. Dalam sudut pandang yang demikianlah makalah
sederhana ini ingin mengurai bagaimana ketiga istilah itu saling berhubungan.
ETIKA KEILMUAN
· Etika adalah sebuah ilmu dan bukan
sebuah ajaran. Jadi etika dan ajaran moral tidak berada di tingkat yang sama.
· Ilmu dan etika sebagai suatu
pengetahuan yang diharapkan dapat meminimalkan dan menghentikan oerilaku
penyimpangan dan kejahatan di kalangan masyarakat.
· Ilmu dan etika diharapkan
mampu mengembangkan kesadaran moral di lingkungan masyarakat sekitar agar dapat
menjadi cendekiawan yang memiliki moral dan akhlak yang baik/mulia.
Contoh hubungan antara etika dan beberapa ilmu:
• Etika dan jiwa ilmu (psikologi),
antara etika dan ilmu jiwa terdapat hubungan yang amat kuat. Ilmu jiwa
menyelidiki dan membicarakan kekuatan perasaan, paham, mengenal, ingatan,
kehendak, sedangkan etika sangat membutuhkan obyek kajian ilmu jiwa. Pada masa
sekarang ini, terdapat cabang ilmu jiwa yang disebut’ ilmu jiwa masyarakat”
yakni menyelidiki soal bahasa bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan
susunan masyarakat.
• Etika dan ilmu kemasyarakatan (sosiologi), hubungan
diantara kedua ilmu ini erat, karena perbuatan manusia itulah yang menjadi
topik kajiannya, disisi lain etika sangat mendorong untuk mempelajari kehidupan
masyarakat yang mana itu menjadi pokok persoalan sosiologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar