cat-kaoani.html" target="_blank" title="Happy Cat Kaoani">

Selasa, 11 November 2014

PENGETAHUAN DAN KEYAKINAN
1.   Hubungan antara Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan tidak sama dengan keyakinan karena keyakinan bisa saja keliru, tetapi sah saja dianut sebagai keyakinan. Salah satu syarat untuk mengatakan bahwa seseorang mengetahui sesuatu adalah bahwa apa yang diklaimnya sebagai yang diketahui dalam kenyataannya memang demikian adanya. Dengan kata lain, pengetahuan selalu mengandung kebenaran. Apa yang diketahui harus benar, yaitu harus ditunjang oleh bukti-bukti berupa acuan pada fakta, saksi, memori, catatan historis, dsb. Selain itu ada pula istilah proposisi atau hipotesis yang merupakan pernyataan yang mengungkapkan apa yang diketahui dan atau diyakini sebagai benar yang perlu dibuktikan lebih lanjut.
Pengetahuan selalu berarti pengetahuan tentang kebenaran. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan bukan sekedar sikap mental karena setiap pernyataan atau proposisi yang merupakan pengetahuan harus selalu mendukung kebenaran dank arena itu selalu punya acuan pada realitas. Tetapi disini timbul dua pendapat yang berbeda. Pertama, supaya ada pengetahuan, subjek yang bersangkutan harus sadar bahwa dia tahu. Jika dia tahu tentang sesuatu, ia harus tahu bahwa ia tahu tentang hal itu. Kedua, meneguhkan pendapat pertama bahwa pengetahuan baru benar-benar merupakan pengetahuan ketika subjek tersebut sadar (kembali) akan apa yang mungkin pernah diketahuinya.

2.  Macam-macam pengetahuan menurut polanya
Dibedakan antara tiga macam pengetahuan, yaitu pengetahuan/ tahu bahwa, pengetahuan/tahu bagaimana, dan pengetahuan/tahu tentang.
a.  Tahu bahwa, adalah pengetahuan tentang informasi tertentu, tahu bahwa sesuatu terjadi, tahu bahwa ini atau itu memang demikian adanya, bahwa apa yang dikatakan memang benar. Singkatnya tahu bahwa p, dan bahwa p adalah benar. Jenis pengetahuan ini disebut juga pengetahuan teoritis, pengetahuan ilmiah, walaupun masih pada tingkat yang tidak begitu mendalam.
b.  Tahu bagaimana, adalah menyangkut bagaimana melakukan sesuatu. Ini yang dikenal sebagai know-how. Pengetahuan jenis ini berkaitan dengan praktek, maka disebut juga pengetahuan praktis. Ini berarti bahwa pengetahuan jenis ini hanya bersifat praktis, tetapi tetap memiliki landasan atau asumsi teoritis tertentu. Hanya saja asumsi dan konsep teoritis itu telah diaplikasikan menjadi pengetahuan praktis.
c.   Tahu akan/mengenai, adalah sesuatu yang sangat spesifik menyangkut pengetahuan akan sesuatu atau seseorang melalui pengalaman atau pengenalan pribadi. Ciri pengetahuan model ini adalah pertama, karena pengetahuan ini didasarkan pada pengenalan pribadi yang langsung dengan objek, pengetahuan ini mempunyai tingkat objektifitas yang cukup tinggi. Kedua, bahwa subjek mampu membuat penilaian tertentu atas objeknya karena pengenalan dan pengalaman pribadi yang bersifat langsung dengan objek. Ketiga, biasanya pengetahuan ini bersifat singular, yaitu hanya berkaitan dengan barang atau objek khusus. Artinya, pengetahuan ini terutama terbatas pada objek yang dikenal secara langsung dan personal dan bukan menyangkut objek serupa lainnya.
d.  Tahu mengapa, adalah pengetahuan yang jauh lebih mendalam dan serius daripada “tahu bahwa” karena “tahu mengapa” berkaitan dengan penjelasan. Penjelasan ini tidak hanya berhenti pada informasi yang ada sebagaimana pada “tahu bahwa” melainkan menerobos masuk ke balik data atau informasi yang ada. Jadi, “tahu mengapa” jauh lebih kritis. Menurut plato dan aristoteles, dalam berhadapan dengan benda-benda di alam semesta ini, manusia pada dasarnya digerakkan oleh tiga perasaan: perasaan terkejut, perasaan ingin tahu, dan perasaan kagum.

3.  Hubungan diantara empat macam pengetahuan
a.  Antara “tahu bahwa” dan “tahu bagaimana”
Hubungan yang sangat erat yaitu bahwa “pengetahuan bagaimana” selalu mengandaikan “pengetahuan bahwa”. Pengetahuan bahwa bisa hanya berhenti pada sekedar tahu. Jadi pengetahuan hanya demi pengetahuan. Sedangkan pengetahuan bahwa justru talah melangkah lebih jauh untuk menerapkan pengetahuan bahwa tadi sehingga berguna bagi manusia. Maka, pengetahuan pada tingkat kedua ini sudah tidak lagi sekedar tahu demi tahu, melainkan tahu untuk digunakan dan dimanfaatkan bagi kehidupan manusia. 
b.  Antara “tahu bahwa” dan “tahu akan”
Tuntutan akan pentingnya “tahu akan” atau pengetahuan melalui pengenalan bagi “pengetahuan bahwa” sangat penting khususnya bagi ilmu-ilmu sosial. Maka dalam kaitan dengan ilmu-ilmu sosial sering sekali ditekankan agar peneliti atau ilmuwan yang bersangkutan perlu melakukan penelitian dengan melibatkan dirinya secara langsung pada objek penelitiannya. Jadi, observasi langsung, bahkan hidup, mengenal, menghayati, dan merasakan kehidupan dari orang-orang yang menjadi objek penelitiannya sangat diperlukan untuk menjamin obyektivitas pengetahuannya tentang orang-orang yang ditelitinya.
c.   Antara “tahu bagaimana” dan “tahu akan”
Dengan mengetahui sesuatu secara pribadi, seseorang pada akhirnya semakin tahu bagaimana bertindak secara tepat. Contohnya : karena pemiliki computer tahu secara pribadi tentang sebuah computer, ia tahu dengan baik sekali bagaimana menggunakannya.
d.  Antara “tahu mengapa” dan ketiga jenis pengetahuan lainnya
Pertama, kita tidak hanya berhenti pada “tahu bagaimana”, melainkan kita perlu melangkah lebih jauh untuk mengetahui mengapa sesuatu terjadi sebagaimana adanya. Agar supaya pengetahuan kita bahwa sesuatu itu terjadi sebagaimana adanya benar-benar akurat, kita membutuhkan “pengetahuan mengapa”.
Kedua, untuk bisa tahu bagaimana melakukan sesuatu, dalam banyak kasus kita perlu mengetahui mengapa sesuatu terjasi. “Tahu bagaimana” sesungguhnya merupakan aplikasi dan konsekuaensi dari pengetahuan kita mengenai mengapa sesuatu terjadi, yaitu mengenai sebab dan akibat.
Ketiga, dalam kasus tertentu, untuk bisa mempunyai “pengetahuan mengapa” sesuatu terjadi, kita perlu mempunyai pengenalan pribadi, kita perlu “tahu akan”, yaitu tahu secara mendalam tentang hal itu.


4.  Skeptisisme
Apakah pengetahuan itu mungkin dicapai? Apakah kita benar-benar tahu? Bagaimana kita merasa yakin bahwa kita tahu? Pertanyaan-pertanyaan ini telah dikemukakan oleh orang-orang yang bersikap skeptic terhadap adanya pengetahuan. Inilah yang selanjutnya dikenal dengan skeptisisme. Sikap dasar skeptisisme adalah bahwa kita tidak pernah tahu tentang apapun.
Gorgias, mengatakan bahwa (a) tidak ada yang benar-benar ada (b) kalaupun ada sesuatu yang ada didunia ini, kita tidak bisa mengetahui, (c) kalaupun kita bisa mengetahuinya kita tidak bisa mengkomunikasikan apa yang kita ketahui itu kepada orang lain.

Pertama-tama, perlu dikatakan bahwa skeptisisme telah menyumbang sesuatu yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan, yaitu sikap meragukan secara positif setiap klaim dan bukti yang kita peroleh. Kedua, kenyataan menunjukkan bahwa selalu ada konsep yang berpasangan hitam dan putih, benar dan salah, kecil dan besar, berat dan ringan, tahu dan tidak tahu. Karena skeptisisme menerima bahwa manusia selalu tidak tahu, yaitu bahwa pengetahuan manusia adalah hal yang mustahil dicapai, itu sudah dengan sendirinya menunjukkan bahwa yang sebaliknya pun haris diterima sebagai mungkin. Ketiga, skeptisisme yang radikal akan melahirkan berbagai kontradikisi. Kaum skeptic mengatakan bahwa “semua keyakinan kita perlu diragukan” haruslah benar. Padahal dengan pernyataan tersebut berarti pernyataan kaum skeptic bahwa “semua keyakinan kita perlu diragukan” juga harus diragukan. Jadi pernyataan kaum skeptic bahwa “semua keyakinan kita perlu diragukan” juga tidak benar, dank arena itu jangan dianggap serius. 

SUMBER PENGETAHUAN
Rasionalisme

Secara etimologis menurut Bagus (2002), rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris rationalims, dan menurut Edwards (1967) kata ini berakar dari bahasa Latin ratio yang berarti “akal”, Lacey (2000) menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegang bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Kaum Rasionalisme mulai dengan sebuah pernyataan aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan dari ide yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia.[1]
Dalam pembahasan tentang suatu teori pengetahuan, maka Rasionalisme menempati sebuah tempat yang sangat penting. Paham ini dikaitkan dengan kaum rasionalis abad ke-17 dan ke-18, tokoh-tokohnya ialah Rene Descartes, Spinoza, leibzniz, dan Wolff, meskipun pada hakikatnya akar pemikiran mereka dapat ditemukan pada pemikiran para filsuf klasik misalnya Plato, Aristoteles, dan lainnya. Paham ini beranggapan, ada prinsip-prinsip dasar dunia tertentu, yang diakui benar oleh rasio manusi. Dari prinsip-prinsip ini diperoleh pengetahuan deduksi yang ketat tentang dunia.                                                                                                                         Prinsip-prinsip pertama ini bersumber dalam budi manusia dan tidak dijabarkan dari pengalaman, bahkan pengalaman empiris bergantung pada prinsip-prinsip ini. Prinsip-prinsip tadi oleh Descartes kemudian dikenal dengan istilah substansi, yang tak lain adalah ide bawaan yang sudah ada dalam jiwa sebagai kebenaran yang tidak bisa diragukan lagi. Ada tiga ide bawaan yang diajarkan Descartes, yaitu:
1.                  Pemikiran; saya memahami diri saya makhluk yang berpikir, maka harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.
2.                  Tuhan merupakan wujud yang sama sekali sempurna; karena saya mempunyai ide “sempurna”, mesti ada sesuatu penyebab sempurna untuk ide itu, karena suatu akibat tidak bisa melebihi penyebabnya.
3.                  Keluasaan; saya mengerti materi sebagai keluasaan atau ekstensi, sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli-ahli ilmu ukur.
Sementara itu menurut logika Leibniz yang dimulai dari suatu prinsip rasional, yaitu dasar pikiran yang jika diterapkan dengan tepat akan cukup menentukan struktur realitas yang mendasar. Leibniz mengajarkan bahwa ilmu alam  adalah perwujudan dunia yang matematis. Dunia yang nyata ini hanya dapat dikenal melaui penerapan dasar-dasar pemikiran. Tanpa itu manusia tidak dapat melakukan penyelidikan ilmiah. Teori ini berkaitan dengan dasar pemikiran epistimologis Leibniz, yaitu kebenaran pasti/kebenaran logis dan kebenaran fakta/kebenaran pengalaman. Atas dasar inilah yang kemudian Leibniz membedakan dua jenis pengetahuan. Pertama; pengetahuan yang menaruh perhatian pada kebenaran abadi, yaitu kebenaran logis. Kedua;pengetahuan yang didasari oleh observasi atau pengamatan, hasilnya disebut dengan “kebenaran fakta”.
Paham Rasionalisme ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasio. Jadi dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia harus dimulai dari rasio. Tanpa rasio maka mustahil manusia itu dapat memperolah ilmu pengetahuan.  Rasio itu adalah berpikir. Maka berpikir inilah yang kemudian membentuk pengetahuan. Dan manusia yang berpikirlah yang akan memperoleh pengetahuan. Semakin banyak manusia itu berpikir maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapat. Berdasarkan pengetahuan lah manusia berbuat dan menentukan tindakannya.
Sehingga nantinya ada perbedaan prilaku, perbuatan, dan tindakan manusia sesuai dengan perbedaan pengetahuan yang didapat tadi. Namun demikian, rasio juga tidak bisa berdiri sendiri. Ia juga butuh dunia nyata. Sehingga proses pemerolehan pengetahuan ini ialah rasio yang bersentuhan dengan dunia nyata di dalam berbagai pengalaman empirisnya. Maka dengan demikian, seperti yang telah disinggung sebelumnya kualitas pengetahuan manusia ditentukan seberapa banyak rasionya bekerja. Semakin sering rasio bekerja dan bersentuhan dengan realitas sekitar maka semakin dekat pula manusia itu kepada kesempunaan.
Prof. Dr. Muhmidayeli, M.Ag menulis dalam bukunya Filsafat Pendidikan yaitu “Kualitas rasio manusia ini tergantung kepada penyediaan kondisi yang memungkinkan berkembangnya rasio kearah yang memedai untuk menelaah berbagai permasalahan kehidupan menuju penyempurnaan dan kemajuan” Dalam hal ini penulis memahami yang dimaksud penyedian kondisi diatas ialah menciptakan sebuah lingkungan positif yang memungkinkan manusia terangsang untuk berpikir dan menelaah berbagai masalah yang nantinya memungkinkan ia menuju penyempunaan dan kemajuan diri.
Karena pengembangan rasionalitas manusi sangat bergantung kepada pendyagunaan maksimal unsur ruhaniah individu yang sangat tergantung kepada proses psikologis yang lebih mendalam sebagai proses mental, maka untuk mengembangkan sumber daya manuia menurut aliran rasionalisme ialah dengan pendekatan mental disiplin, yaitu dengan melatih pola dan sistematika berpikir seseorang melalui tata logika yang tersistematisasi sedemikian rupa sehingga ia mampu menghubungkan berbagai data dan fakta yang ada dalam keseluruhan realitas melalui uji tata pikir logis-sistematis menuju pengambilan kesimpulan yang baik pula.
kesan dan gagasan. Kesan adalah persepsi yang masuk melalui akal budi, secara langsung, sifatnya kuat dan hidup. Sementara gagasan adalah persepsi yang berisi gambaran kabur tentang kesan-kesan. Gagasan bisa diartikan dengan cerminan dari kesan. Contohnya, jika saya melihat sebuah “rumah”, maka punya kesan tertentu tentang apa yang saya lihat (rumah), jika saya memikirkan sebuah rumah maka pada saat itu saya sedang memanggil suatu gagasan. Menurut Hume jika sesorang akan diberi gagasan tentang “apel” maka terlebih dahulu ia harus punya kesan tentang “apel” atau ia harus terlebih dahulu mengenal objek “apel”. Jadi menurut Hume jika seandainya manusia itu tidak memiliki alat untuk menemukan pengalaman itu buta dan tuli misalnya, maka manusia itu tidak akan dapat memperoleh kesan bahkan gagasan sekalipun. Dalam artian ia tidak bisa memperoleh ilmu pengetahuan.[2]
Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui ide tersebut, namun manusia tidak menciptakannya, tetapi mempelajari lewat pengalaman. Ide tersebut kiranya sudah ada “ di sana” sebagai bagian dari kenyataan dasar dan pikiran manusia. Kaum rasionalis berdalil bahwa karena pikiran dapat memahami prinsip, maka prinsip itu harus ada, artinya prinsip harus benar dan nyata. Jika prinsip itu tidak ada, orang tidak mungkinkan dapat menggambarkannya. Prinsip dianggap sebagai sesuatu yang a priori, dan karenanya prinsip tidak dikembangkan dari pengalaman, bahkan sebaliknya pengalaman hanya dapat dimengerti bila ditinjau dari prinsip tersebut. Dalam perkembangannya Rasionalisme diusung oleh banyak tokoh, masing-masingnya dengan ajaran-ajaran yang khas, namun tetap dalam satu koridor yang sama.
Pada abad ke-17 terdapat beberapa tokoh kenamaan rasionalis seperti Plato sebagai pelopornya yang disebut juga sebagai „rasionalisme atau „platonisme , René Descartes (1590 – 1650) yang juga dinyatakan sebagai bapak filsafat modern. Semboyannya yang terkenal adalah “cotigo ergo sum” (saya bepikir, jadi saya ada). Tokoh-tokoh lainnya adalah J.J. Roseau (1712 – 1778) dan Basedow (1723 – 1790), Gottfried Wilhelm von Leibniz, Christian Wolff dan Baruch Spinoza. Perkembangan pengetahuan mulai pesat pada abad ke 18 nama-nama seperti Voltaire, Diderot dan DAlembert adalah para pengusungnya.

·         Empirisisme

Empirisme secara etimologis menurut Bagus (2002) berasal dari kata bahasa Inggris empiricism dan experience. Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία (empeiria) dan dari kata experietia yang berarti “berpengalaman dalam”,“berkenalan dengan”, “terampil untuk”. Sementara menurut Lacey (2000) berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan indera.[3]
Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal.
Berdasarkan Honer and Hunt (2003) aliran ini adalah tidak mungkin untuk mencari pengetahuan mutlak dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita terdapat kekuatan yang dapat dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih lambat namun lebih dapat diandalkan.
Kaum empiris cukup puas dengan mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang besar untuk benar, meskipun kepastian mutlak tidak akan pernah dapat dijamin. Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata “tunjukkan hal itu kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh pengalamannya sendiri. Tokoh yang dianggap sebagai benih dari empisisme adalah Aristoteles, seperti juga pada rasionalisme, maka pada empirisme pun terdapat banyak tokoh pendukungnya yang tidak kalah populernya. Tokoh-tokoh dimaksud di antarnya adalah David Hume, John Locke dan Bishop Berkley.

·         Persamaan dan perbedaan antara Rasionalisme dan Empirisme

Terdapat dua aspek umum dalam realisme yang digambarkan dengan melihat pada realisme mengenai dunia keseharian dari obyek makroskopik beserta sifat-sifatnya. Aspek pertama, yaitu terdapat sebuah klaim tentang dimensi eksistensi suatu obyek yang nyata (terlihat). Sementara itu, aspek yang kedua dari realisme tentang dunia keseharian dari obyek makroskopis beserta sifat-sifatnya memiliki dimensi kebebasan dalam hal kepercayaan yang dianut seseorang, bahasa yang digunakan, skema konseptual, dan sebagainya (realisme generik).
Sifat dan penjelasan-penjelasan yang masuk akal dari paham realisme merupakan issu-issu yang hangat diperdebatkan dalam metafisik kontemporer mengenai berbagai obyek dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Hume (1999) di dalam aliran empiris terdapat tiga prinsip pertautan ide. Pertama, prinsip kemiripan yaitu mencari kemiripan antara apa yang ada di benak kita dengan kenyataan di luar. Kedua, prinsip kedekatan, misalnya apabila kita memikirkan sebuah rumah, maka berdasarkan prinsip kedekatan kita juga berpikir tentang adanya jendeka, pintu, atap, perabot sesuai dengan gambaran rumah yang kita dapatkan lewat pengalaman inderwi sebelumnya. Ketiga, prinsip sebab- akibat yaitu jika kita memikirkan luka, kita pasti memikirkan rasa sakit akibatnya. Bagi Hume, ilmu pengetahuan tidak pernah mampu memberi pengetahuan yang niscaya tentang dunia ini.
Kebenaran yang bersifat a priori seperti ditemukan dalam matematika, logika dan geometri memang ada, namun menurut Hume, itu tidak menambah pengetahuan kita tentang dunia. Pengetahuan kita hanya bisa bertambah lewat pengamatan empiris atau secara a posteriori. Perbedaan antara rasionalisme dengan empiris secara umum adalah kalau pada aliran rasionalisme pengetahuan itu berupa a priori, bersumber dari penalaran dan pembuktian-pembuktian pada logika dan matematika melalui deduksi, sedangkan pada aliran empirisisme pengetahuan bersumber pada pengalaman , terutama pada pengetahuan dalam pembuktian-pembutiannya melalui eksperimentasi, observasi, dan induksi.
 Perbedaan antara Rasionalisme dan Empirisisme oleh Immanuel Kant diambil jalan tengahnya, yaitu Immanuel Kant mengajukan sintesis a priori. Menurutnya pengetahuan yang benar bersumber rasio dan empiris yang sekaligus bersifat a priori dan a posteriori. Sebagai gambaran, kita melihat suatu benda dikarenakan mata kita melihat ke arah benda tersebut (rasionalisme) dan benda tersebut memantulkan sinar ke mata kita (empirisme).
Menurut Edward (1967) secara terminologi rasionalisme dipandang sebagai aliran yang menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengalaman inderawi. Hanya pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang memenuhi syarat semua pengetahuan ilmiah. Pengalaman hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan yang diperoleh akal. Akal tidak memerlukan pengalaman. Akal dapat menurunkan kebenaran dari diri sendiri, yaitu atas dasar asas-asas petama yang pasti.[4]
Menurut Kattsoff (2004) rasionalisme tidak mengingkari nilai pengalaman, melainkan hanya dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Karenanya aliran ini yakin bahwa kebenaran dan kesehatan terletak pada ide, dan bukannya di dalam barang sesuatu. Jika kebenaran bermakna sebagai mempunyai ide yang sesuai dengan atau dengan yang menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja. Persamaan antara rasionalisme dan empirisme adalah rasio dan indra manusia sama-sama berperan dalam pembentukan pengetahuan.

KEBENARAN ILMIAH

Benar adalah sesuatu yang apa adanya atau sesuai kenyataan yang ada, sebuah fakta tentang realita berdasarkan data-data yang ada. Sedangkan “kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang kongkret maupun abstrak (Hamami dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2010 : 135).
Lebih lanjut Hamami mengatakan bahwa setiap subjek yang memiliki pengetahuan akan memiliki persepsi dan pengertian yang berbeda-beda satu dengan lainnya tentang kebenaran, karena kebenaran tidak bisa dilepaskan dari makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement(proposisi). Senada dengan Hamami, Louis Kattsoff (1996 : 178) mengatakan “kebenaran” menunjukkan bahwa makna sebuah pernyataan (proposisi) sunggung-sungguh merupakan halnya, bila proposisi bukan merupakan halnya, maka kita mengatakan bahwa proposisi itu sesat atau bila proposisi itu mengandung kontradiksi (bertentangan) maka kita dapat mengatakan bahwa proposisi itu mustahil. Artinya kebenaran berkaitan erat dengan kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan, dan nilai kebenaran itu sendiri. Berikut penjelasan Hamami tentang kaitan kebenaran dengan beberapa hal di atas.
Pertama, kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya kebenaran itu dipengaruhi oleh jenis pengetahuan yang dimiliki oleh subjek. Jika subjek memiliki pengetahuan biasa ataucommon sense knowledge, maka pengetahuan seperti ini akan menghasilkan kebenaran yang bersifat subjektif, sangat tergantung pada subjek yang melihat. Selanjutnya jika subjek memiliki pengetahuan ilmiah yaitu pengetahuan yang sudah memiliki objek yang khas atau spesifik dengan pendekatan metodologis yang khas pula, yaitu adanya kesepakatan diantara ahli yang ada. Maka kebenaran dalam konteks ini bersifat relatif, yaitu akan selalu mendapatkan revisi atau perubahan jika ditemukan kebanaran yang baru pada penelitian-penelitian yang akhir dan mendapat persetujuan (agreement) dari konvensi ilmuan sejenis. Kemudian jenis pengetahuan pengetahuan filsafati, yaitu melalui pendekatan filsafati, yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis, dan spekulatif. Kebenaran pengetahuan ini bersifat absolut-intersubjektif. Artinya kebenaran ini merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan seorang filsafat itu dan selalu mendapat pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran sama.
Jenis pengetahuan yang terakhir adalah kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam agama, yang memiliki sifat dogmatis, artinya kebenaran dalam agama sudah tertentu dan sesuai ajaran agama tertentu, kemudian di yakini sesuai dengan keyakinan subjek untuk memahaminya. Kebenaran makna kandungan kitab suci berkembang secara dinamis sesuai dengan perkembangan waktu, akan tetapi kandungan maksud ayat kitab suci tidak dapat dirubah dan sifatnya absolut.
Kedua, kebanaran dikaitkan dengan sifat atau karakteristik tentang cara atau metode apa yang digunakan subjek dalam membangun pengetahuannya itu. Apakah ia membangun pengetahuannya dengan penginderaan atau sense experience, akal pikir, ratio, intuisi, atau keyakinan. Dimana cara atau metode yang digunakan subjek akan mempengaruhi karakteristik kebenaran, sehingga harus dibuktikan juga dengan metode atau cara yang sama. Misalnya, jika subjek memperoleh kebenaran melalui sense experiense, maka harus dibuktikan juga dengan sense experience, bukan dengan cara yang berbeda, begitu pula dengan yang lainnya.
Ketiga, nilai kebenaran dikaitkan dengan ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Artinya kebenaran ini berkaitan dengan relasi antara subjek dan objek. Manakala subjek memiliki dominasi yang tinggi dalam membangun suatu kebenaran. Maka kebenaran itu akan bersifat subjektif, artinya nilai kebenaran yang terkandung di dalam pengetahuan itu sangat bergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau sebaliknya, jika objek lebih berperan maka sifat pengetahuannya objektif, seperti ilmu alam.
Sebagai pelengkap bahasan ini, berikut kami kemukakan tiga penafsiran utama tentang kebenaran menurut Sahakian dan Sahakian (1966 : 23) adalah sebagai berikut :
1.      Kebanaran sebagai sesuatu yang mutlak (absolut)
2.      Kebenaran sebagai subjektivitas atau pendapat pribadi
3.      Kebenaran sebagai sesuatu yang mustahil dan sulit untuk di jangkau
Penafsiran utama tentang kebenaran menurut Sahakian dan Sahakian merupakan polemik yang belum terselesaikan ketika seorang filsuf membicarakan kebenaran. Apakah ada kebenaran yang bersifat mutlak atau absolut? Buktinya ilmu pengetahuan terus berkembang dan mempengaruhi sudut pandang manusia tentang kebenaran. Atau jangan-jangan kebenaran itu hanyalah subjektivitas seseorang atau kelompok? Bahkan jangan-jangan kebenaran merupakan hal yang sulit dan mustahil untuk di jangkau.

TEORI-TEORI KEBENARAN
Pada bagian ini akan kami bahas tentang teori-teori kebenaran sepanjang sejarah pemikiran manusia. Perbincangan mengenai kebenaran sudah dimulai sejak Plato melalui metode dialog, kemudian dilanjutkan oleh Aristoteles. Menurut seorang filsuf Jaspers sebagaimana dikutip oleh Hammersa bahwa sebenarnya para pemikir sekarang hanya melengkapi dan menyempurnakan filsafat Plato dan filsafat Aristoteles (Hamami dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2010 : 138). Hal ini tentu berdasarkan argumentasi yang kuat berdasarkan pemikiran yang mendalam, yang berlandaskan pada data-data sejarah yang ada. Plato dianggap sebagai filsuf yang membangun teori pengetahuan yang cukup lengkap sebagai teori pengetahuan yang awal. Dari pemikiran Plato kemudian muncul teori-teori pengetahuan baik sebagai kritik atau sebagai support atas teori yang sudah dibangun Plato.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai teori-teori kebenaran yang kami coba rangkum dari beberapa sumber ilmiah :
1.      Teori kebenaran korespondensi
Kebenaran menurut persfektif teori korespondensi adalah pernyataan dikatakan benar jika sesuai dengan kenyataan atau fakta yang ada. George E. Moore (dalam Sahakian dan Sahakian, 1966 : 24) mengatakan kebenaran sebagai “truth as the correspondence of ideas to reality”, yaitu kebenaran adalah kesesuaian antara ide atau gagasan-gagasan dengan realita. Sebaliknya, jika pernyataan bertentangan dengan kenyataan atau fakta yang ada, maka pernyataan tersebut dianggap sebagai penyataan yang “sesat”. Misalnya, ada pernyataan yang mengatakan Bang Rhoma adalah seorang penyanyi dangdut. Kalau pernyataan tersebut bersesuaian dengan fakta yang ada di kenyataan yang sebenarnya maka itu dianggap sebagai “kebenaran”. Jika ternyata Bang Rhoma bukan seorang penyanyi dangdut, melainkan seorang Presiden. Maka pernyataan tersebut dianggap sebagai bukan “kebenaran”.
Makna “sesuai” (correspond) dalam teori ini masih menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada kritik terhadap teori kebenaran korespondensi. Kalau kebenaran selalu diukur dengan fakta-fakta yang ada, bagaimana dengan ide-ide yang bersifat kejiwaan, apakah ada fakta yang bersifat kejiwaan. Lalu bagaimana membuktikan hubungan antara ide-ide tersebut, padahal ide-ide tersebut bersifat abstrak, sulit untuk dibuktikan dengan indera manusia. Misalnya, Pak Soleh dikatakan sebagai seorang yang soleh, kalau pernyataan ini kemudian dibuktikan kebenarannya dengan makna sesuai atau korespondensi, maka tentu subjek akan melihat pada perilaku-perilaku beragama yang tampak pada Pak Soleh. Pertanyaannya, apakah “kesolehan” Pak Soleh bisa sepenuhnya diukur dengan observasi?, bukankah kesolehan di dominasi oleh aspek kejiwaan Pak Soleh?.
Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah kelemahan-kelemahan para realisme atau paham yang bertolak dari kenyatan-kenyataan. Karena kebenaran korespondensi dianut oleh para realisme (Kattsoff, 1996 : 184).
2.      Teori kebenaran koherensi
Berkebalikan dengan paham korespondensi, paham koherensi dianut oleh para pendukung idealisme. Banyak kita dalam kehidupan sehari-hari menggunakan paham ini. Intinya menurut paham ini “kebenaran” adalah jika pernyataan sebjek saling berhubungan dengan pernyataan subjek yang lainnya atau jika makna yang dikandungnya saling berhubungan dengan pengalaman kita (Kattsoff, 1996 : 181). Misalnya, “Bang Rhoma adalah penyanyi dangdut”, pernyataan ini akan dianggap benar jika fakta lain mendukung pernyataan ini. Tetapi, pernyataan ini akan dianggap “sesat” apabila fakta-fakta lain yang telah ada tidak mendukung pernyataan ini atau mengandung kontradiksi.
Kritik terhadap paham ini saya sajikan dalam sebuah kasus. Di dalam penegakkan hukum di pengadilan terhadap kasus pembunuhan yang dilakukan Si A terhadap Si B. Untuk membuktikan pembunuhan ini benar atau tidak, kemudian pengadilan mendatangkan beberapa saksi, yaitu Si C, Si D, dan Si E. Si C dan Si D cenderung membela Si A, mungkin karena sebagai teman, keluarga, atau karena sebab lain. Sehingga Si C dan Si D memeberikan kesaksian yang sama (koheren) atau saling berhubungan yang menyebabkan keringanan terhadap Si A. Sedangkan Si E memberikan kesaksian berbeda yang memberatkan Si A, Si E menjelaskan secara jujur fakta-fakta pembunuhan yang dia lihat. Setelah persidangan selesai, hakim menyatakan bahwa Si A tidak bersalah dan di bebaskan.
Dari contoh kasus di atas disimpulkan bahwa paham koherensi akan selalu berpihak pada pernyataan-pernyataan yang dianggap koheren, walaupun terkadang pernyataan tersebut bukan fakta yang sesungguhnya. Kemudian paham koherensi cenderung mengabaikan pernyataan lain yang dianggap tidak koheren, walaupun sesungguhnya pernyataan itu adalah fakta yang sesunggunya.
3.      Teori kebenaran pragmatis
Teori kebenaran pragmatisme adalah paham tentang kebenaran yang diukur dari kegunaannya dalam kehidupan manusia. Bagi seorang pragmatis kebenaran tentang suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia (Suriasumantri, 2010 : 58-59).
Dapat dipahami bahwa kebenaran dalam pandangan pragmatisme adalah sebatas kegunaan praktis dalam kehidupan. Apabila suatu proposisi memiliki kegunaan praktis maka akan dipandang sebagai suatu kebenaran. Sebaliknya, apabila proposisi tidak memiliki kegunaan praktis maka tidak dipandang sebagai suatu kebenaran, walaupun ada kemungkinan sesuatu yang tidak bersifat fungsional tersebut adalah kebenaran yang sesungguhnya.
Kebenaran dalam pandangan pragmatisme akan membawa kebenaran pada masa kadaluarsa (expired). Artinya ada masanya kebenaran yang sudah dianggap suatu kebenaran akan dibuang, karena tidak lagi bersifat fungsional. Kebanaran dalam pandangan pragmatis juga tidak fleksibel bagi semua konteks, karena apabila kebenaran diukur dari segi fungsionalnya, maka bagaimana kebenaran akan berguna bagi konteks lain yang secara hakikat memiliki perbedaan signifikan dengan konteks yang lainnya.
4.      Kebanaran menurut paham-paham empiris
Definisi-definisi kebenaran menurut paham-paham empiris berdasarkan atas berbagai segi pengalaman, dan biasanya merujuk pada pengalaman inderawi seseorang. Paham tersebut memandang proposisi bersifat meramalkan (predictive), atau hipotesis, dan memandang kebenaran proposisi sebagai terpenuhinya hipotesa (Kattsoff, 1996 : 186).
Definisi di atas mengantarkan kita pada suatu pemahaman, bahwa kebenaran menurut paham-paham empiris memiliki subjektivitas yang tinggi. Jika demikian, maka kebenaran akan memiliki makna yang berbeda-beda bagi setiap orang yang memaknainya. Disebabkan perbedaan pengalaman-pengalaman yang dimiliki subjek. Selanjutnya kebenaran akan bersifat nisbi, tidak memiliki tolak ukur yang pasti. Sehingga siapa saja bisa mengklaim bahwa dia adalah yang benar.
5.      Teori kebenaran sintaksis
Penganut teori kebenaran sintaksis berpijak bahwa suatu pernyataan dikatakan benar jika pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis atau gramatika yang baku. Atau dengan kata lain apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang di syaratkan maka proposisi itu tidak memiliki arti. Teori ini berkembang di antara filsuf analisa bahasa, terutama yang begitu ketat terhadap pemakaian gramatika seperti Schleiemacher (Hamami, Tim Dosen Filsafat UGM, 2010).
6.      Teori kebenaran semantis
Teori ini kebanyakan dianut dan berkembang di kalangan filsuf analitika bahasa. Kebenaran menurut faham ini adalah suatu proposisi dinilai benar ditinjau dari segi arti atau makna, apakah proposisi yang merupakan pangkal tumpunya itu mempunyai referensi yang jelas. Artinya teori ini bertugas untuk mengungkap ke sahihan proposisi dalam referensinya. Pernyataan yang mengandung kebenaran adalah pernyataan yang memiliki arti atau makna yang sesungguhnya dengan merujuk pada kenyataan. Arti yang bersifat definitif, yaitu arti yang dengan jelas menunjuk ciri yang khas dari sesuatu yang ada (Hamami, Tim Dosen Filsafat UGM, 2010). Seperti “Irigasi menyebabkan kesulitan dalam mengatur pengairan”, pernyataan ini akan dikatakan benar bila menunjukkan makna yang sahih tentang bendungan dalam kenyataan yang sesungguhnya. Tentu kebenaran pernyataan diatas akan di cek langsung ke referensinya.

SIFAT KEBENARAN ILMIAH
Bagian sebelumnya telah membahas tentang pengertian kebenaran, meskipun kebenaran di maknai dengan definisi yang berbeda-beda, tapi bisa kita ambil pengertian bahwa kebenaran ilmiah atau ilmu sangat erat kaitannya dengan pengetahuan, metode atau cara membangun suatu pengetahuan, dan relasi antara subjek dan objek. Telah dikemukakan juga teori-teori kebenaran yang berkembang di dalam kefilsafatan.
Di bagian ini kita akan membahas mengenai sifat kebenaran ilmiah. Hamami (Tim Dosen Filsafat UGM, 2010) mengatakan bahwa kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian, artinya suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanpa adanya prosedur baku yang harus dilalui. Prosedur baku maksudnya adalah tahap-tahap yang harus dilalui dalam memperoleh pengetahuan ilmiah yang pada hakikatnya berupa teori-teori melalui metode ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu.
Lebih lanjut Hamami mengatakan bahwa kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif, maksudnya bahwa kebenaran dari suatu teori, atau lebih tinggi dari aksioma (pernyataan yang dterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian) atau paradigma, harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam keadaan objektivitasnya.
Mengacu pada satatus ontologis objek, menurut Hamami kebenaran dalam ilmu dibedakan menjadi dua jenis teori, yaitu kebenaran korespondensi untuk ilmu-ilmu alam dan kebenaran koherensi atau konsistensi untuk ilmu-ilmu sosial, kemanusian, dan logika. Kemudian hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan dalam hal kebenaran yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan di bidangnya. Sehingga kebenaran-kebenaran dalam ilmu akan terus berubah dan berkembang berdasarkan penemuan-penemuan terbaru yang mampu menentang teori-teori terdahulu dalam bidang ilmu yang sama. Serta mendapatkan persetujuan konvensional dari para ilmuwan di bidang yang sama.

MASALAH KEPASTIAN DAN FALIBILISME MODERAT


1. Masalah Kepastian kebenaran Ilmiah
Ilmu pengetahuan tidak akan pernah memberikan suatu formulasi final dan absolute tentang seluruh universum. Pengakuan ini dalam filsafat ilmu pengetahuan disebut falibilisme. Falibilisme tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan salah sama sekali, melainkan bahwa ilmuwan harus bersikap kritis terhadap apa yang sudah dicapainya. 

2. Fabilisme dan Metode Ilmu Pengetahuan
     Falibilisme ilmu pengetahuan berasal dari dua sumber, yaitu sebagai konsekuensi dari metode ilmu pengetahuan, dan dari objek ilmu pengetahuan yaitu universum alam. Beberapa indikasi metodologis bisa dilihat sebagai alas an dari falibilisme moderat ini.
1)  Peneliti sendiri tidak pernah merasa pasti dengan apa yang dicapainya sendiri
2) Fokus utama dari kegiatan penelitian ilmiah adalah verifikasi atau hipotesis
3) Karena metode induksi, seperti akan dibahas lebih lanjut, selalu tidak legkap
4) Setiap hipotesis pada dasarnya tidak pasti.
Maka dengan keempat alas an ini kita dapat mengatakan bahwa pengetahuan ilmiah itu tidak luput dari kekeliruan dan selalu terbuka pada kritik dan perbaikan.

3. Falisme dan Objek Ilmu Pengetahuan
     Objek ilmu pengetahuan adalah peristiwa-peristiwa alam. Alam tidak berada dalam kondisi statis, melainkan selalu mengalami evolusi. Karena itu selalu saja ada hal yang baru dan tak terduga, bahkan oleh hukum ilmiah yang sudah ditemukan.
a. Realitas Objek
     Ilmuawan yang baik adalah seorang realis yang tidak memandang konsep-konsep ilmiahnya semata-mata sebagai hasil imajinasi tanpa hubungannya dengan dunia nyata melainkan merupakan hasil dari pemikiran tentang dunia nyata. Objek ilmu pengetahuan dapat dikatakan nyata atau real jika sekurang-kurangnya mengandung tiga arti, yaitu sebagai berikut.
1) Yang nyata berarti lepas dari pikiran manusia
2) Meskipun dunia real yang dipelajari ilmu pengetahuan bebas dari pemikiran manusia, realitas itu sendiri dapat dikatakan real jika memang dapat dikenal.
3) Realitas yang dibicarakan ilmu pengetahuan adalah realitas public, realitas yang menjadi perhatian banyak orang. Yang real berarti yang memiliki dimensi sosial.
     Jika kebenaran pengetahuan ilmiah tidak dapat dilihat sebagai kenyataan public, yang diterima dan didiskusikan public, maka pengetahuan akan menjadi pendapat pribadi yang pada akhirnya bisa tidak dapat dipercaya oleh siapapun. 
b. Evolusi objek pengetahuan ilmiah
     Pengertian mengenai evolusi objek menyangkut dua aspek, yaitu
1) Objek pengetahuan ilmiah selalu berubah-ubah sehingga pengetahuan yang kita capai, sekalipun sangat akurat, harus ditinjau kembali
2) Objek dari pengetahuan kita selalu berkembang kepada regularitas.
     Maka dengan dua alasan tersebut, pengetahuan kita selalu rentan terhadap kesalahan, tetapi tetap ada harapan akan tercapainya suatu pemahaman yang lebih baik tentang alam semesta, asalkan penelitian terus dilakukan dari generasi ke generasi. Jika penelitian berhenti maka dua akibat dapat terjadi, yaitu
1) ilmu tidak lagi menjelaskan realitas yang sesungguhnya karena realitas selalu berubah

2) ilmu pengetahuan memutuskan hubungannya dengan realitas yang semakin lama semakin terbuka untuk diketahui.

ILMU, TEKNOLOGI DAN KEBUDAYAAN

      Jika dicermati secara sepintas antara ilmu, teknologi dan kebudayaan memiliki hubungan yang sangat erat. Hubungan tersebut dapat dipahami dalam bingkai yang sangat luas dari kehidupan manusia. Membicarakan hubungan istilah-istilah tersebut sesungguhnya dapat ditelusuri dengan memahami terlebih dahulu pengertian masing-masing istilahnya. Dengan ungkapan lain, dapat disebutkan ketiga istilah itu berkaitan secara definitif. Dalam sudut pandang yang demikianlah makalah sederhana ini ingin mengurai bagaimana ketiga istilah itu saling berhubungan.  

      ETIKA KEILMUAN

·         Etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran. Jadi etika dan ajaran moral tidak berada di tingkat yang sama.
·         Ilmu dan etika sebagai suatu pengetahuan yang diharapkan dapat meminimalkan dan menghentikan oerilaku penyimpangan dan kejahatan di kalangan masyarakat.
·         Ilmu dan etika  diharapkan mampu mengembangkan kesadaran moral di lingkungan masyarakat sekitar agar dapat menjadi cendekiawan yang memiliki moral dan akhlak yang baik/mulia.
Contoh hubungan antara etika dan beberapa ilmu:
      Etika dan jiwa ilmu (psikologi), antara etika dan ilmu jiwa terdapat hubungan yang amat kuat. Ilmu jiwa menyelidiki dan membicarakan kekuatan perasaan, paham, mengenal, ingatan, kehendak, sedangkan etika sangat membutuhkan obyek kajian ilmu jiwa. Pada masa sekarang ini, terdapat cabang ilmu jiwa yang disebut’ ilmu jiwa masyarakat” yakni menyelidiki soal bahasa bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan susunan masyarakat.
      Etika dan ilmu kemasyarakatan (sosiologi), hubungan diantara kedua ilmu ini erat, karena perbuatan manusia itulah yang menjadi topik kajiannya, disisi lain etika sangat mendorong untuk mempelajari kehidupan masyarakat yang mana itu menjadi pokok persoalan sosiologi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar